BANDUNG, JPMN – Hari Demam Berdarah Dengue (DBD) ASEAN diperingati setiap tanggal 15 Juni sebagai bentuk pengingat akan bahaya demam berdarah yang masih tinggi terutama di wilayah Asia Tenggara.
Di Indonesia, kasus demam berdarah terus mengalami peningkatan, seperti yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga pekan ke-22 tahun 2024.
Lonjakan Kasus DBD di Indonesia
Kemenkes mencatat hampir 120 ribu kasus DBD hingga pekan ke-22 tahun 2024, melebihi total kasus pada tahun 2023 yang tercatat sebanyak 114.700. Meskipun jumlah kasus meningkat, angka kematian akibat DBD menunjukkan penurunan. Pada tahun 2023, jumlah kematian mencapai 894 kasus, sedangkan pada tahun 2024 hingga pekan ke-22, terdapat 777 kasus kematian.
Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, wilayah dengan jumlah kasus terbanyak masih didominasi oleh Jawa Barat, diikuti oleh DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Lima kabupaten/kota dengan jumlah kasus DBD tertinggi tahun ini adalah Bandung, Depok, Tangerang, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur.
Pentingnya Komitmen dan Kolaborasi
Imran menekankan bahwa kunci penanganan DBD adalah komitmen pemerintah, kolaborasi, serta inovasi-inovasi dalam penanggulangan. Ia menyoroti pentingnya peran pemerintah daerah dalam menangani DBD karena mereka memiliki kendali langsung di wilayahnya masing-masing.
Contoh sukses dalam penurunan kasus DBD terlihat di Kupang dan Probolinggo. Di Kupang, penurunan kasus DBD terjadi karena walikota memberikan instruksi kepada semua ASN untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara serentak setiap hari Jumat. Sementara di Probolinggo, Pj Bupati berkeliling setiap Jumat untuk memastikan pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk berjalan dengan baik dan didukung oleh semua pihak.
Risiko Penyebaran Sepanjang Tahun
Meskipun siklus bulanan nyamuk Aedes aegypti sudah lewat, risiko penyebaran DBD tetap tinggi sepanjang tahun. Faktor cuaca dan suhu yang tidak menentu menjadi penyebab utama. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak kemarau terjadi pada Juli dan Agustus, namun nyamuk Aedes aegypti cenderung lebih aktif menggigit ketika suhu meningkat. Selain itu, pola hujan yang tidak menentu, seperti hujan yang hanya berlangsung satu hari dan tidak hujan selama lima hari berikutnya, menyebabkan genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Ajakan untuk Masyarakat
Imran mengajak seluruh masyarakat untuk aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas sarang nyamuk. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk mengendalikan penyebaran DBD dan menurunkan angka kasus serta kematian akibat penyakit ini.
Hari Demam Berdarah Dengue ASEAN adalah momen penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya DBD. Peningkatan jumlah kasus di Indonesia menjadi peringatan bahwa upaya pencegahan dan pengendalian harus terus ditingkatkan. Dengan komitmen dan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan angka kasus dan kematian akibat DBD dapat diminimalkan.
Sumber: PRFM News










