Kendaran Listrik Ternyata Tetap Keluarkan Emisi

oleh
oleh

Jakarta, JPMN – Kendaraan bermotor telah menjadi bagian penting dari kehidupan kita, namun masalah emisi yang dihasilkan oleh kendaraan konvensional bensin dan diesel telah menjadi isu global yang mendesak.

Namun, apakah kendaraan listrik adalah solusi yang lebih baik? Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), menjelaskan bahwa kendaraan listrik memiliki keunggulan dalam hal emisi yang lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional, bahkan jika mereka dijalankan dengan sumber listrik yang berasal dari bahan bakar fosil seperti batu bara.

Kendaraan listrik lebih efisien dalam memanfaatkan sumber listriknya, berkontribusi pada emisi yang lebih rendah daripada kendaraan bahan bakar minyak. Hal ini dikarenakan sebagian besar energi pada kendaraan bahan bakar minyak yang ada dalam tangki hanya digunakan sekitar 46 persen untuk menggerakkan roda. Sementara itu, kendaraan listrik mengalami kerugian energi total hanya sekitar 11 persen.

Keunggulan utama kendaraan listrik terletak pada teknologi regenerative braking system yang memungkinkan mereka untuk mendaur ulang energi saat pengereman. Saat kendaraan listrik direm, energi yang dihasilkan digunakan untuk menggerakkan dinamo motor yang kemudian menghasilkan listrik yang dapat disimpan dalam baterai. Dengan teknologi ini, kendaraan listrik dapat memanfaatkan hingga 22 persen energi yang sebelumnya hilang.

Dalam hal emisi karbon dioksida per kilometer, kendaraan bermesin bensin berkapasitas 2.000 cc dan menggunakan bensin RON 95 dengan kadar sulfur maksimum 10 ppm menghasilkan emisi tertinggi sekitar 179,17 gram karbon dioksida per kilometer. Sementara itu, kendaraan bermesin hibrida 2.000 cc yang menggunakan bensin RON 95 sulfur maksimum 10 ppm menghasilkan emisi sekitar 76,79 gram karbon dioksida per kilometer.

Di sisi lain, kendaraan listrik dengan daya 85 kilowatt yang diisi dengan listrik dari pembangkit batu bara menghasilkan emisi sekitar 67,82 gram per kilometer. Namun, kendaraan listrik yang mendapatkan daya dari pembangkit energi terbarukan hanya menghasilkan emisi sekitar 9,90 gram karbon per kilometer.

Ahmad Safrudin menekankan bahwa meskipun emisi kendaraan listrik dengan daya dari pembangkit batu bara lebih rendah, langkah-langkah harus diambil segera untuk menggantikan pembangkit listrik berbasis batu bara dengan sumber daya yang lebih ramah lingkungan. Pembangkit energi terbarukan mampu mendukung upaya menurunkan emisi kendaraan, termasuk emisi gas rumah kaca dan polusi udara.

Kendaraan listrik adalah langkah awal yang positif menuju transportasi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Namun, untuk mencapai tujuan ini sepenuhnya, perlu ada upaya lebih lanjut dalam mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil, seperti batu bara.

Dengan berinvestasi dalam sumber daya energi terbarukan dan teknologi ramah lingkungan, kita dapat mencapai kendaraan yang benar-benar bebas emisi dan berkelanjutan untuk masa depan yang lebih baik.