Artikel, JPMN – Dalam Surah Al-Qamar, ayat 1-2, Al-Quran menggambarkan peristiwa bulan yang “terbelah” sebagai tanda dekatnya hari kiamat. Ayat ini berbunyi, “Telah dekat saatnya dan terbelahlah bulan. Dan jika mereka melihat suatu tanda, mereka berpaling dan berkata, ‘Ini adalah sihir yang terus-menerus.’” Konteks mukjizat ini sering dipahami sebagai salah satu tanda kenabian Nabi Muhammad SAW yang menegaskan kekuasaan Allah.
Dalam ilmu astronomi modern, fenomena bulan yang “terbelah” tidak merujuk pada kejadian fisik yang sebenarnya tetapi lebih pada perubahan dalam fase bulan atau fenomena astronomi seperti gerhana bulan. Gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, menyebabkan bulan tampak berubah warna atau tertutup sebagian. Perubahan ini adalah hasil dari posisi relatif bulan terhadap Bumi dan Matahari.
Fase bulan yang terlihat dari Bumi, seperti bulan baru, bulan purnama, dan fase-fase antara keduanya, menggambarkan perubahan bentuk bulan yang disebabkan oleh pencahayaan Matahari yang bervariasi. Fenomena-fenomena ini adalah bagian dari siklus alami bulan yang dijelaskan secara ilmiah dan tidak terkait langsung dengan peristiwa mukjizat yang disebutkan dalam teks religius.
Pengertian tentang fase bulan dalam konteks Al-Quran dan astronomi modern menawarkan perspektif yang beragam mengenai bagaimana fenomena alam dapat dipahami. Sementara penjelasan ilmiah memberi pemahaman tentang mekanisme fisik, interpretasi religius memberikan makna spiritual dan simbolis yang mendalam. Keduanya berkontribusi pada pemahaman kita tentang fenomena alami dan signifikansi religiusnya.










