Artikel, JPMN – Dalam Surah Al-Qamar, ayat 1-2, Al-Quran menggambarkan peristiwa bulan yang “terbelah” sebagai tanda dekatnya hari kiamat. Ayat ini berbunyi, “Telah dekat saatnya dan terbelahlah bulan. Dan jika mereka melihat suatu tanda, mereka berpaling dan berkata, ‘Ini adalah sihir yang terus-menerus.’” Konteks mukjizat ini sering dipahami sebagai salah satu tanda kenabian Nabi Muhammad SAW yang menegaskan kekuasaan Allah.
Dalam perspektif geografi, cakrawala merupakan batas visual di mana permukaan bumi tampak bertemu dengan langit. Pembentukan cakrawala secara ilmiah terkait dengan kelengkungan bumi. Ketika seseorang berdiri di permukaan bumi, kelengkungan ini menyebabkan batas pandangannya seolah terbatas, seakan-akan langit dan bumi bertemu di titik jauh, menciptakan ilusi cakrawala. Seiring dengan kemajuan teknologi dan eksplorasi ruang angkasa, manusia mulai menyadari bahwa cakrawala bukanlah batas fisik, melainkan batas persepsi visual.
Dalam konteks Al-Quran, ayat ini juga dapat dimaknai secara simbolis, mengingatkan manusia tentang keterbatasan pengetahuan dan kekuatan mereka dibandingkan dengan kebesaran alam semesta. Meskipun manusia dapat melintasi cakrawala dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kekuasaan Allah tetap jauh melampaui pemahaman manusia. Keterkaitan antara pandangan religius dan penjelasan geografi ini menunjukkan harmoni antara ilmu pengetahuan dan wahyu.










