FLORES, JPMN – Gunung Lewotobi Laki-laki yang terletak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami erupsi yang membawa dampak tragis.
Berdasarkan informasi dari Kapolres Flores Timur, AKBP I Nyoman Putra Sandita, erupsi yang terjadi pada tanggal 3 November 2024, pukul 02:48 WITA ini mengakibatkan sembilan orang meninggal dunia dan kerusakan yang signifikan terhadap infrastruktur.
Kapolres menyampaikan bahwa sekitar 23 rumah rusak berat, enam sekolah, dan satu unit biara turut terdampak akibat letusan tersebut. Tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Tagana, Pemerintah Daerah Flores Timur, dan relawan, yang berjumlah sekitar 170 personel, telah dikerahkan ke lokasi kejadian sejak pagi. Mereka melakukan evakuasi terhadap korban meninggal dan korban selamat ke empat posko pengungsian yang telah disiapkan.
Dari sembilan korban meninggal, lima korban dimakamkan di Desa Kelantanlo, satu di Desa Lewotobi, dua di Kabupaten Sikka, dan satu korban dibawa ke Kabupaten Bajawa.
Selain itu, Kapolres melaporkan bahwa jumlah pengungsi telah mencapai 1.976 orang yang tersebar di berbagai posko, antara lain di Desa Konga dengan 782 pengungsi, Desa Bokkang (345 orang), Desa Leolaga (427 orang), dan SD Hokeng di Kabupaten Sikka (422 orang).
Untuk mendukung para pengungsi, pihak berwenang telah membangun posko kesehatan dan dapur umum. Bantuan sembako juga mulai didistribusikan kepada warga yang terkena dampak erupsi. Kapolres menambahkan bahwa bantuan logistik dan makanan sudah disiapkan di dapur umum dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sebanyak 14 desa telah terdampak oleh erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, yang terletak di lereng gunung dengan radius sekitar 3 hingga 5 kilometer. Dua desa yang paling parah terdampak, yaitu Desa Lewotobi dan Desa Klatanlo, mengalami kerusakan berat karena kedekatannya dengan kaki gunung. Sementara itu, pendataan kerusakan rumah lainnya yang tergolong sedang dan ringan masih berlangsung.
Pihak berwenang juga telah meningkatkan status Gunung Lewotobi Laki-laki dari level III (siaga) ke level IV (awas) sejak tanggal 3 November 2024, pukul 24:00 Wita, sebagai langkah antisipasi terhadap potensi erupsi lebih lanjut.
Tragedi ini menjadi pengingat akan kekuatan alam dan pentingnya persiapan menghadapi bencana, serta perlunya solidaritas dalam membantu mereka yang terkena dampak.










