Berita, JPMN – 30 September 2024 – Kematian pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, dalam serangan udara Israel di Beirut, Lebanon, pada Jumat (27/9), memicu reaksi yang beragam dari negara-negara Arab. Meskipun sebagian besar pemerintah Arab memilih bungkam, kemarahan warga di berbagai negara Arab atas serangan tersebut tak bisa dibendung.
Hizbullah adalah milisi Syiah yang berafiliasi dengan Iran, sebuah negara yang memiliki hubungan rumit dengan banyak negara Arab yang mayoritas beraliran Sunni. Iran dan Hizbullah kerap dituding sebagai penyebab ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama karena dukungan mereka terhadap milisi-milisi proksi yang berperan dalam sejumlah konflik di wilayah tersebut.
Arab Saudi dan Negara-Negara Teluk
Arab Saudi, yang dipimpin kelompok Sunni, tidak secara langsung memberikan respons terhadap kematian Nasrallah. Dalam pernyataan resminya, Riyadh menyampaikan keprihatinan atas situasi di Lebanon dan mendesak semua pihak menjaga keamanan dan kedaulatan negara tersebut. Namun, tak ada pernyataan eksplisit terkait kematian Nasrallah. Hal ini dianggap sejalan dengan pandangan Saudi yang sering kali memandang Iran dan milisi-milisi dukungannya sebagai ancaman bagi stabilitas regional.
Negara-negara Teluk lainnya, seperti Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain, juga belum memberikan tanggapan publik. UEA dan Bahrain, yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel sejak 2020 melalui Abraham Accords, tampaknya memilih berhati-hati dalam merespons kematian Nasrallah, mengingat hubungan mereka dengan Israel.
Meski pemerintah Bahrain bungkam, media pro-Iran di negara tersebut, LuaLua TV, melaporkan adanya pawai kecil sebagai bentuk duka atas kematian Nasrallah. Di sisi lain, pemerintah Bahrain dilaporkan menahan sejumlah ulama Syiah yang menyampaikan belasungkawa atas kematian Nasrallah.
Mesir dan Negara Lainnya
Mesir, melalui Presiden Abdel Fattah El Sisi, menyampaikan bahwa kawasan Timur Tengah sedang mengalami situasi yang sulit. Dalam pidatonya, El Sisi tidak secara spesifik menyebut Nasrallah, namun ia menegaskan komitmen Mesir untuk menjaga stabilitas di kawasan tanpa terseret dalam konflik yang dapat merusak keamanan negaranya.
El Sisi juga dilaporkan melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati, di mana ia menyatakan bahwa Mesir menolak segala bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon. Namun, sama seperti pernyataan resmi lainnya, El Sisi tidak menyebutkan nama Nasrallah dalam diskusi tersebut.
Sementara itu, respons dari masyarakat Mesir lebih beragam. Lamis Elhadidi, seorang penyiar televisi terkemuka, mengkritik Israel atas serangan tersebut dan menyebut bahwa perpecahan di dunia Arab hanya akan menguntungkan musuh. Ia menyerukan persatuan di antara negara-negara Arab meskipun terdapat perbedaan politik dan ideologis.
Suriah, Irak, dan Oman
Di sisi lain, negara-negara seperti Suriah dan Irak telah mengumumkan masa berkabung selama tiga hari untuk menghormati Nasrallah. Kedua negara ini memiliki hubungan dekat dengan Iran dan Hizbullah, dan kematian Nasrallah dianggap sebagai kehilangan besar bagi perlawanan anti-Israel di kawasan.
Namun, di Idlib, Suriah, yang dikuasai oposisi, suasana berbeda terlihat. Video yang diunggah oleh jurnalis Saif Al Dareei menunjukkan warga di Idlib merayakan kematian Nasrallah, mengingat oposisi di wilayah tersebut sebagian besar didominasi oleh kelompok-kelompok Sunni yang berseberangan dengan Hizbullah.
Di Oman, mufti besar negara itu juga menyampaikan duka cita atas kematian Nasrallah, menyebutnya sebagai “duri dalam tenggorokan proyek Zionis selama lebih dari tiga dekade.”
Serangan Israel Terus Berlanjut
Israel, yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan Nasrallah, melanjutkan operasi militernya di Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa Israel berencana memperluas serangan di perbatasan Lebanon-Israel dalam upaya menekan Hizbullah. Sejumlah pihak menilai bahwa kematian Nasrallah merupakan bagian dari strategi Israel untuk melemahkan kekuatan Hizbullah, yang telah lama menjadi ancaman bagi keamanan Israel di perbatasan utaranya.
Selain menyerang Lebanon, Israel juga melancarkan operasi militer besar-besaran di Palestina, terutama di Gaza dan Tepi Barat. Konflik ini terus meningkatkan ketegangan di seluruh kawasan Timur Tengah, dengan banyak pihak yang khawatir akan eskalasi lebih lanjut.
Penutup
Kematian Hassan Nasrallah, seorang tokoh penting dalam perlawanan anti-Israel di Timur Tengah, telah memicu respons yang beragam di dunia Arab. Meskipun sebagian besar pemerintah Arab memilih diam, kemarahan dan duka di kalangan warga menunjukkan betapa pentingnya peran Nasrallah dalam dinamika politik dan militer di kawasan ini. Sementara itu, Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon, dan situasi di Timur Tengah tetap tegang.










