Berita, JPMN – Dalam perkembangan terkini, militer Israel mengumumkan rencana untuk melancarkan invasi darat ke wilayah selatan Lebanon, sebagai respons terhadap peningkatan aktivitas milisi Hizbullah, yang dianggap sebagai proksi Iran. Kepala Staf Militer Israel, Herzi Halevi, mengungkapkan bahwa persiapan untuk manuver ini sedang dilakukan, termasuk pengerahan dua brigade cadangan dan divisi pemboman ke Lebanon.
Halevi menegaskan kepada pasukan bahwa mereka akan menghadapi perlawanan yang lebih kuat dari Hizbullah, yang telah memperluas jangkauan senjatanya. Dalam pernyataannya, ia menekankan pentingnya kesiapan militer untuk memasuki daerah yang telah disiapkan oleh Hizbullah sebagai markas.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengulangi komitmennya untuk mengembalikan warga Israel yang terpaksa mengungsi akibat ketegangan ini. Ia mengisyaratkan bahwa Hizbullah akan menghadapi konsekuensi yang lebih serius dari serangan balasan Israel.
Dalam tiga hari serangan yang berlanjut, laporan dari Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sekitar 615 korban jiwa dan lebih dari 2.000 luka-luka. Serangan ini telah mengundang kecaman luas dari berbagai negara, termasuk di kawasan Timur Tengah dan Asia Timur. Indonesia turut mengecam tindakan Israel, sementara Prancis mendesak diadakannya rapat darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas situasi ini.
Krisis yang semakin memburuk di Lebanon menyoroti ketegangan yang mendalam di kawasan, dengan potensi dampak yang lebih luas bagi stabilitas regional. Serangan Israel dan tanggapan internasional yang muncul menunjukkan urgensi untuk menemukan solusi damai demi mencegah eskalasi lebih lanjut.










