Jakarta, JPMN – Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti), yang berada di bawah naungan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), telah memegang peran penting dalam upaya memeratakan akses internet di seluruh pelosok Indonesia.
Meskipun di perkotaan layanan telekomunikasi dan internet mudah diakses, realitas di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) berbeda, di mana masyarakatnya masih belum merasakan akses internet secara merata.
Kendala utama terletak pada ketidakmenarikan daerah 3T bagi perusahaan swasta karena dianggap tidak komersial. Faktor-faktor seperti jumlah penduduk yang sedikit, daya beli yang minim, dan tidak sebanding dengan biaya infrastruktur menjadi alasan utama mengapa beberapa daerah masih terpinggirkan dari manfaat internet.
Bakti hadir sebagai solusi untuk mengatasi kesenjangan digital ini, dengan fokus pada dua tugas utama. Pertama, penyediaan layanan Universal Service Obligation (USO), dan kedua, meningkatkan konektivitas di wilayah yang diutamakan untuk pembangunan di luar anggaran, yang didanai oleh dana USO.
Direktur Utama Bakti Kominfo, Fadhilah Mathar, menyatakan bahwa meskipun telah berdiri sejak tahun 2006, peran Bakti tetap konsisten dalam membangun berbasis desa. Desa-desa yang tertinggal, terluar, dan berbatasan menjadi fokus utama, dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupan mereka melalui kebijakan afirmasi pemerintah, terutama dalam bentuk konektivitas digital dan solusi ekosistem lainnya.
Salah satu inisiatif besar Bakti adalah program Palapa Ring. Palapa Ring merupakan penggelaran jaringan tulang punggung infrastruktur internet untuk menyediakan layanan broadband nasional. Dengan panjang 12.229 km dan total 55 hops microwave links, Palapa Ring telah berhasil menghubungkan 57 kabupaten/kota di Indonesia. Pada 14 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo meresmikan Palapa Ring setelah berhasil menghubungkan wilayah Timur, termasuk Papua, Maluku, NTT, hingga Pulau Rote.
Selain Palapa Ring, Bakti juga meluncurkan Satelit Republik Indonesia atau Satria-1. Satelit multifungsi pemerintah ini memiliki kemampuan menjangkau semua wilayah Indonesia, termasuk yang terpencil. Diluncurkan pada 18 Juni 2023, Satria-1 berkapasitas 150 Gbps dan diharapkan dapat mencakup fasilitas layanan publik di Indonesia pada tahun 2024.
Program Bakti Aksi (Akses Internet) juga menjadi langkah signifikan dengan menyediakan akses internet melalui VSAT, radio link, dan fiber optik di 14.445 titik di seluruh Indonesia. Sementara program Bakti Sinyal (BTS) berfokus pada pembangunan menara Base Transceiver Station (BTS) di daerah yang belum terjangkau sinyal telekomunikasi, dengan total 6.025 lokasi stasiun pemancar sebagai pengirim dan penerima sinyal internet Bakti.
Melalui Program Ekosistem Digital, Bakti berusaha mewujudkan transformasi digital bagi masyarakat dengan memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi. Dari tahun 2019 hingga 2022, Bakti telah mencatat 51 portofolio program ekosistem digital.
Dengan langkah-langkah ini, Bakti Kominfo terus berupaya keras untuk memastikan bahwa akses internet tidak hanya menjadi hak yang dapat dinikmati oleh masyarakat perkotaan, tetapi juga mencapai setiap sudut Indonesia, membawa manfaat transformasi digital untuk seluruh rakyat.










