Kasus Penyakit Kusta di Indonesia Meningkat: Tantangan dan Stigma yang Harus Dihadapi

oleh
oleh

SUBANG, JPMN – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru saja melaporkan situasi penyakit kusta di Indonesia sepanjang tahun 2023. Data yang tercatat menunjukkan adanya 14.376 kasus baru kusta yang dilaporkan tersebar di 38 provinsi selama tahun tersebut.

Dr. Imran Pambudi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes, mengungkapkan bahwa prevalensi kasus kusta tertinggi terdapat di wilayah Indonesia bagian Timur.

“Provinsi-provinsi di daerah Papua umumnya masih memiliki tingkat kasus yang tinggi, diikuti oleh daerah Sulawesi Barat dan Gorontalo,” ujarnya dalam konferensi pers di kantor Kemenkes RI pada Selasa, 5 Maret 2024 seperti dikutip dari laman detik.com.

Imran juga menyampaikan bahwa saat ini sebanyak 90 persen kasus kusta merupakan tipe multi-basiler, yang artinya memiliki jumlah bakteri yang banyak. Dari kasus kusta baru yang terjadi, sekitar 8,20 persen menyerang anak-anak. Selain itu, sekitar 5,7 persen penderita kusta telah mengalami disabilitas tingkat dua, menandakan bahwa beberapa penderita sudah memasuki tahap lanjut yang menyebabkan cacat.

“Target kami adalah untuk menemukan sebanyak mungkin penderita kusta sebelum mereka mengalami disabilitas, karena pengobatan akan menjadi lebih sulit jika penderita sudah mengalami cacat,” tambahnya.

Namun, selain tantangan medis, stigma terhadap penyakit kusta juga menjadi fokus perhatian. Dr. Imran dan dr. Melani Marissa, dokter spesialis kulit dan kelamin, mengungkapkan bahwa stigma ini masih terasa kuat di masyarakat.

“Dulu, pasien dengan kusta sering kali dipasung atau diasingkan, dan stigma ini masih berdampak pada pandangan masyarakat terhadap penderita kusta hingga saat ini,” ungkap dr. Melani dalam acara yang sama.

Stigma ini tidak hanya berasal dari masyarakat, tetapi juga dialami oleh penderita kusta sendiri, yang sering kali merasa malu atau takut untuk mencari pertolongan medis karena takut akan dicap sebagai orang yang terkena kutukan atau tidak bisa sembuh. Hal ini menjadi tantangan bagi tenaga medis dalam memberikan pendekatan yang sensitif dan penuh empati terhadap penderita kusta.

Dengan meningkatnya jumlah kasus kusta dan masih adanya stigma di masyarakat, perlu adanya upaya bersama dari pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat untuk mengedukasi dan memberikan perlindungan serta dukungan kepada para penderita kusta agar mereka dapat mendapatkan perawatan yang tepat dan hidup dengan martabat tanpa diskriminasi.