Gelombang Panas di Asia Selatan, Suhu di India Capai 52,9 Derajat Celcius

oleh
oleh
Warga India minum air di tengah cuaca panas yang melanda kawasan tersebut.q /Reuters/

BANDUNG, JPMN – Gelombang panas masih menyerang Asia Selatan, dengan sejumlah negara di wilayah tersebut melaporkan rekor suhu tertinggi. Salah satu negara yang paling terdampak adalah India, di mana Departemen Meteorologi India telah mengeluarkan peringatan darurat (red alert) untuk beberapa bagian barat laut negara itu. Peringatan ini dikeluarkan setelah sejumlah wilayah di Ibu Kota New Delhi mencatatkan suhu hampir 50 derajat Celsius.

Rekor Suhu di New Delhi

Pada hari Rabu, New Delhi mencatat suhu tertinggi sepanjang masa sebesar 52,9 derajat Celsius (127,22 Fahrenheit). Kondisi panas ekstrem ini menyebabkan banyak siswa pingsan di sekolah dan air keran mengering.

Departemen Meteorologi India (IMD) menyatakan bahwa red alert ini menunjukkan kemungkinan besar masyarakat bisa terkena heat illness dan heat stroke. Oleh karena itu, masyarakat, terutama yang rentan, diimbau untuk waspada.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Kondisi panas yang ekstrem ini telah menyebabkan jalan-jalan di Mungeshpur di barat laut Delhi menjadi sepi, dengan sebagian besar toko tutup karena orang-orang tetap tinggal di dalam rumah untuk menghindari panas terik.

Di Narela, penduduk membagikan minuman dingin gratis setelah suhu naik hingga 49,9 derajat Celsius. IMD sedang memeriksa data dan sensor untuk memahami perbedaan suhu di Mungeshpur dibandingkan dengan stasiun lainnya.

Seorang siswa bernama Nidhi mengungkapkan kesulitan yang dihadapi para pelajar dalam cuaca panas ini. “Panas sekali di Delhi sehingga pelajar pingsan, ada yang jatuh sakit, ada yang mengalami dehidrasi. Para pelajar menghadapi banyak masalah dalam cuaca panas ini. Kipas angin tidak berfungsi di institusi kami,” katanya.

Penyebab Gelombang Panas

Menurut Gufran Beig, ketua profesor di Institut Sains India, transisi yang tidak biasa dari El Nino ke La Nina serta kurangnya angin yang membawa kelembapan telah mengakibatkan pemanasan yang berkepanjangan, sehingga menyebabkan rekor suhu.

Otoritas New Delhi juga menyoroti masalah kelangkaan air akibat fenomena ini. Menteri Air Atishi Marlena menyerukan tindakan ‘tanggung jawab kolektif’ agar warga tidak boros menggunakan air. Pemerintah telah mengurangi pasokan air dari dua kali sehari menjadi satu kali sehari di banyak daerah sebagai langkah penanganan.

Situasi di Wilayah Lain di India dan Negara Tetangga

Rajasthan, di India tengah, juga dilanda panas terik dengan suhu mencapai 50 derajat Celsius di beberapa distrik. Data pemerintah menunjukkan empat orang telah meninggal sejak Maret dengan 451 kasus heat stroke dilaporkan pada hari Rabu. Di sisi lain, wilayah timur laut India mengalami hujan deras pasca topan Remal, dengan sedikitnya 27 orang tewas di Mizoram akibat runtuhnya tambang batu dan tanah longsor. Assam, yang berbatasan dengan Bangladesh, juga terendam banjir.

Tetangga India, Pakistan, juga dilanda gelombang panas selama seminggu. Suhu di Mohenjo Daro di pedesaan Provinsi Sindh mencapai puncaknya pada 53 derajat Celsius pada hari Minggu. Kantor meteorologi Pakistan memperkirakan suhu akan mulai menurun mulai Rabu, namun memperingatkan gelombang panas lebih lanjut akan terjadi pada bulan Juni.

India dan Pakistan tidak asing dengan suhu musim panas yang menyengat. Namun, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa perubahan iklim menyebabkan gelombang panas menjadi lebih lama, lebih sering, dan lebih intens. Gelombang panas yang sedang melanda Asia Selatan ini adalah bukti nyata dari dampak perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan.

Sumber: PRFMNews.