Dari Jejak Kolonial Menuju Destinasi Unggulan: Kasomalang Kulon Subang Bangkitkan Wisata Berbasis Sejarah dan Budaya

oleh
oleh
PRESTASI: Kepala Desa Kasomalang Kulon, H. Amir meraih juara 2 Desa Wisata se-Kabupaten Subang.

SUBANG, JPMN – Sebuah desa di jantung Subang Selatan, Kasomalang Kulon, sedang menulis babak baru. Bekas pusat administrasi perkebunan kolonial Belanda ini bertekad melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu dan bangkit sebagai destinasi wisata unggulan yang memadukan sejarah, pesona alam, dan budaya lokal dengan konsep modern.

Perjalanan ambisius desa ini dimulai pada tahun 2019, ketika Kasomalang Kulon ditetapkan sebagai salah satu dari 16 desa wisata di wilayah Cupunagara. Momen puncaknya adalah peresmian Sumber Mata Air Cimutan oleh Wakil Bupati Subang, Agus Masykur, yang menjadi penanda resmi dibukanya potensi wisata desa ini ke dunia luar.

Kolonialisme Menjadi Daya Tarik Utama

Berbeda dengan desa wisata lain yang cenderung hanya mengandalkan keindahan alam, Kasomalang Kulon secara unik menjadikan jejak peninggalan kolonial Belanda sebagai daya tarik utama yang masih hidup dan berdenyut.

“Daya tarik pertama kami adalah cagar peninggalan Belanda. Ini bukan sekadar bangunan mati, tapi ruang yang masih berdenyut dengan aktivitas warga,” tegas Kepala Desa Kasomalang Kulon, H. Amirudin S.Pd.I kepada JPMN Jumat 28 November 2025.

Beberapa situs bersejarah yang dihidupkan kembali antara lain:

  • Gedung Sinder: Dahulu menjadi pusat kendali perkebunan, kini bertransformasi menjadi ruang kreatif bagi komunitas seni, pusat pengembangan UMKM, dan kegiatan sosial masyarakat.
  • Bekas Pabrik Teh P&T Land: Menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu perkebunan di Subang yang siap ditelisik lebih jauh oleh wisatawan.

Ironi Manis “Kota Nanas” yang Berasal dari Belanda

H. Amir juga mengungkapkan sebuah fakta sejarah yang menarik sekaligus ironis mengenai identitas Subang sebagai “Kota Nanas”.

“Nanas justru warisan Belanda yang dulu hanya ditanam sebagai pagar pembatas. Kini, ia menjadi komoditas unggulan kami,” ceritanya. Ironi sejarah yang manis ini menunjukkan kemampuan desa untuk mengubah warisan kolonial menjadi kekuatan ekonomi dan identitas. Produk lokal seperti nanas, keripik, deblo, dan singkong kini didandani dengan kemasan modern untuk bersaing di pasar yang lebih luas.

Merintis Curug Perawan dan Visi “Smartpolitan”

Selain sejarah, desa ini tengah merintis destinasi alam anyar, yaitu sebuah curug (air terjun) yang masih perawan. Pengembangannya dilakukan secara hati-hati dengan fokus pada konsep berkelanjutan.

“Akses jalan dan penataan lingkungannya sedang kami garap. Curug ini belum dibuka untuk umum karena kami ingin mengedepankan konsep berkelanjutan yang tidak merusak ekologi,” jelas Amir.

Visi besar desa ini dirangkum dalam konsep “Subang Smartpolitan”: sebuah pembangunan modern berbasis desa, namun dengan kemasan dan cita rasa perkotaan.

  • Lapang Gelora Sauyunan: Dibangun dengan merujuk estetika Lembur Pakuan dan ditargetkan menjadi pusat event budaya berfasilitas internasional.
  • Konsep: “Pengemasannya semuanya di desa, tapi terasa di kota. Marketing-nya lebih elegan,” ujar Amir, menekankan kualitas produk dan presentasi desa yang setara dengan standar kota.

Partisipasi Masyarakat dan Tantangan Anggaran

Partisipasi masyarakat adalah kunci utama keberhasilan rencana ini. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) aktif mengelola destinasi, dan dalam waktu dekat, lebih dari 250 rumah warga telah disiapkan sebagai homestay untuk menyambut kunjungan perwakilan dosen dari seluruh Indonesia tahun depan.

“Dengan adanya ini, ekonomi masyarakat bisa meningkat,” tutur Amir penuh harap.

Namun, ambisi pengembangan desa ini menghadapi tantangan serius. Anggaran dana desa tahun depan terpangkas signifikan, dengan 63% dialokasikan untuk program KAMU (Kemiskinan, Anak Stunting, Urusan Mendedak).

“Dana desa tahun depan sudah dipotong dan hanya tersisa 47 persen. Itu tidak akan cukup untuk menopang pengembangan sebesar ini,” tegas Amir dengan nada prihatin.

Meskipun demikian, dengan kombinasi sejarah yang kuat, alam yang menjanjikan, dan semangat gotong royong warganya, Kasomalang Kulon terus melangkah percaya diri. Desa ini membuktikan bahwa menjadi desa wisata unggulan adalah tentang memaksimalkan setiap potensi yang ada, bukan hanya soal memiliki sumber daya yang melimpah.[Hz]

No More Posts Available.

No more pages to load.