Artikel, JPMN – Jakarta menghadapi ancaman serius dari tiga sumber gempa besar yang sewaktu-waktu dapat mengguncang ibu kota. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang disampaikan BPBD DKI Jakarta, dua dari tiga ancaman tersebut berasal dari zona megathrust yang mengapit Jakarta: Megathrust Jawa Barat dan Megathrust Selat Sunda. Ancaman ketiga berasal dari sesar aktif di daratan seperti Sesar Baribis, Sesar Lembang, dan Sesar Cimandiri.
Megathrust Jawa Barat dan Selat Sunda berpotensi memicu gempa besar dengan magnitudo hingga 8,7. Megathrust Jawa Barat terakhir kali melepaskan energi besar pada tahun 1903 dan 2006, sementara Megathrust Selat Sunda mengalami seismic gap selama 267 tahun sejak gempa besar terakhir pada 1757.
Selain itu, sesar aktif seperti Sesar Baribis, Sesar Lembang, dan Sesar Cimandiri juga meningkatkan risiko gempa di Jakarta. Sesar-sesar ini memiliki riwayat gempa yang signifikan, seperti gempa Karawang pada 1862 dari Sesar Baribis dan gempa Sesar Lembang pada 2011 yang merusak ratusan rumah.
Para ahli, termasuk dari ITB dan IKAMEGA, memperingatkan bahwa gempa dari zona megathrust dapat berdampak parah di Jakarta. Selain guncangan yang kuat, kondisi tanah lunak di Jakarta, yang terdiri dari tanah aluvial dan bekas rawa, dapat memperparah kerusakan akibat fenomena likuifaksi.
Meskipun Jakarta tidak berada langsung di atas zona megathrust, jaraknya yang relatif dekat—sekitar 200-300 km dari sumber gempa—menjadikannya rentan terhadap guncangan besar yang dapat merusak infrastruktur dan bangunan yang tidak tahan gempa.










