Artikel, JPMN — Sultan Syarif Kasim II bin Sultan Syarif Hasyim adalah sosok penting dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan Sultan ke-12 sekaligus penguasa terakhir Kesultanan Siak Sri Indrapura, yang memutuskan untuk menyatukan kerajaan Melayu itu ke dalam wilayah Indonesia setelah kemerdekaan. Sultan Syarif Kasim II lahir pada 1 Desember 1893 di Siak Sri Inderapura dan meninggal pada 23 April 1968 di Pekanbaru, Riau. Sepanjang hidupnya, Sultan Syarif Kasim II banyak melakukan reformasi dan memberikan kontribusi besar bagi rakyatnya serta untuk bangsa Indonesia.
Masa Awal Kepemimpinan dan Perjuangan Melawan Kolonial Belanda
Sultan Syarif Kasim II naik takhta menggantikan ayahandanya dan langsung menghadapi berbagai tekanan dari Pemerintah Kolonial Belanda, yang tengah gencar melakukan politik kolonial untuk memperkecil kekuasaan para raja di wilayah Melayu. Menanggapi hal tersebut, Sultan Syarif Kasim II segera melakukan berbagai reformasi, terutama di bidang pendidikan, untuk mengurangi pengaruh Belanda di Kesultanan Siak.
Sultan membangun sekolah rakyat dan mendatangkan guru dari Langkat. Beliau membagi pendidikan dasar menjadi dua kelas: Sekolah Dasar Kelas Satu dan Sekolah Dasar Kelas Dua. Selain itu, ia mendirikan sebuah internat di Kota Siak Sri Indrapura yang menyediakan fasilitas penginapan dan makanan bagi murid yang ingin belajar, tanpa biaya. Di bidang pendidikan Islam, Sultan mendirikan Madrasatul Tahfiqiyah Hasyimiyah pada tahun 1919 serta perguruan Islam khusus wanita, Madratunnisa Hasyimiyah, yang dipimpin oleh Encik Rahmah Al-Yunusiah dari Padang Panjang. Sultan juga memberikan beasiswa bagi para pemuda-pemudi Siak untuk melanjutkan pendidikan ke luar daerah.
Upaya Melindungi Kedaulatan Kerajaan dari Campur Tangan Kolonial
Selain di bidang pendidikan, Sultan juga menjaga hak-hak rakyatnya dari intervensi kolonial. Pada tahun 1928, hak atas hutan tanah yang dimiliki suku-suku asli di wilayah Siak dihapuskan dan diganti dengan kompensasi uang. Namun, beberapa pemimpin suku, seperti Datuk Laksamana Raja di Laut Bukit Batu, menolak kompensasi tersebut. Belanda kemudian memperkenalkan sistem pemungutan pajak hasil hutan melalui Boswesen di seluruh Kerajaan Siak dengan alasan untuk kepentingan umum, tetapi Sultan menolak hal tersebut.
Ketegangan antara Sultan dan Belanda terus memuncak hingga pada saat Nazi Jerman menyerang Belanda pada 10 Mei 1940, Sultan memanfaatkan situasi ini dengan menolak pembentukan badan pertahanan (staatswag) di wilayahnya.
Dukungan terhadap Kemerdekaan Indonesia
Pada subuh 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II merasa bahwa kemerdekaan Indonesia telah tercapai. Namun, jalur komunikasi yang ketat di bawah penjagaan Jepang membuat kabar proklamasi kemerdekaan terlambat sampai ke Riau. Sultan akhirnya mengutus telik sandi ke Jakarta untuk memastikan kabar kemerdekaan. Pada 28 Oktober 1945, utusan tersebut kembali dengan kabar bahwa Indonesia telah merdeka.
Setelah kemerdekaan, Sultan Syarif Kasim II mendirikan beberapa badan perjuangan, seperti P.R.I dan T.K.R, dan mengizinkan para pejuang menggunakan persenjataan yang dimiliki Kesultanan Siak. Pada awal tahun 1946, Sultan bertolak ke Medan untuk bertemu dengan Gubernur Sumatera, Teuku Muhammad Hassan, di mana Sultan secara resmi menyerahkan kedaulatan Kesultanan Siak kepada Republik Indonesia serta menyumbangkan mahkota emasnya senilai 2 juta rupiah saat itu.
Kontribusi pada Revolusi Sosial dan Perjuangan Militer
Saat revolusi sosial pecah di Sumatera Timur, Sultan mengungsi ke Aceh bersama keluarganya. Di Aceh, Sultan turut berkontribusi dalam pembelian pesawat Dakota yang dikenal sebagai Dakota RI-001 Seulawah. Pesawat ini kemudian menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, sebuah simbol kontribusi rakyat Aceh dan Sultan Siak untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Hari Tua dan Wafat
Setelah Belanda menyerah, Sultan pindah ke Jakarta dan menjalani kehidupan sederhana. Pada masa tuanya, kesehatan Sultan menurun, sehingga ia pindah ke Batam pada 1964 sebelum kembali ke Siak bersama istrinya, Syarifah Fadlun. Sultan Syarif Kasim II wafat pada 23 April 1968 di Rumah Sakit Caltex Rumbai dan dimakamkan dengan upacara militer di Siak Sri Indrapura.
Kini, nama Sultan Syarif Kasim II diabadikan sebagai nama Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru dan UIN Sultan Syarif Kasim (SUSKA). Sultan Syarif Kasim II adalah seorang pejuang kemerdekaan yang berusaha mempertahankan hak-hak rakyatnya dari kolonialisme dan mendukung tegaknya Republik Indonesia.











