“Keren abis, benar-benar spektakuler ini baru pagelaran berkualitas di subang” ujar agung salah seorang penonton pagelaran kolosal tematik pelajar subang 2018 PERANG BATHIN 2 “Aku Ingin Hidup Bunda” yang diselenggarakan oleh Gabungan pelajar Subang dalam naungan Komunitas SOEBANG PENJA TJERITA. Mahasiswa unsub tersebut pula mengatakan bahwa sangat bangga melihat karya pelajar Subang yang ditampilkan, selain cerita yang menarik dan kemasannya begitu unik dan apik penonton disuguhkan sebuah pementasan yang benar-benar spektakuler,perpaduan film dan garapan panggung, berasa lihat bioskop, lightingnya keren artistiknya memanjakan mata permainan aktor-aktrisnya pun total. Testimoni salah seorang penonton . “asli pagelaran kali ini lebih bagus dari tahun yang lalu” ujar sandy siswa SMK Negeri 1 Subang yang pada tahun sebelumnya menonton acara yang sama.
“Perang Bathin 2 Aku ingin hidup bunda, adalah karya yang tahun ini di bawakan setelah melalui berbagai diskusi bersama tim kreatif, merupakan lanjutan dari cerita yang kami bawakan tahun lalu yaitu perang bathin 1 Gejolak Hati Silvi” ujar aqbar nur Ramadhan selaku pimpinan produksi dalam rilisnya kepada jabarpublisher.co
“Alhamdulillah antusiasme pelajar subang tinggi, para pemain berasal dari 18 sekolah se Kabupaten Subang, yang paling jauh ada dari pamanukan yaitu SMK Darul Ma’rif dan ada juga satu-satunya pelajar SD yang main yaitu gilang gustiana dari SDN Cibarola” tambah Aqbar yang juga siswa SMKN 1 Subang.
Pagelaran perang bathin 2 aku ingin hidup bunda yang diselenggarakan di aula pemda subang pada hari sabtu 17 maret 2018 telah berhasil mencuri perhatian masyarakat subang hal ini dibuktikan dengan terjualnya 1.105 tiket dan ditonton hampir 1.200 orang selama 6 sesi pertunjukan. Ini bukan acara komersil, penjualan tiket untuk menutupi kebutuhan garapan pembiayaan dilakukan swadaya tahun ini tidak ada bantuan donasi ataupun sponsor dari pihak manapun Bahkan dari pemda maupun dinas terkait padahal tahun ini sudah yang ke 4 kalinya diadakan, semoga di masa yang akan datang lebih bisa di akomodir oleh pemegang kebijakan di subang Ujar fitra mahendra aktivis pendidikan seni dan budaya sekaligus salah satu pembina Soebang Poenja Tjerita. Di daerah lain pemerintah daerahnya berusaha membangkitkan apresiasi seni remaja dan anak mudanya dengan berbagai program-program, tapi di subang sebaliknya inisiatif apresiasi datang justru dari generasi muda nya, bukan hanya di seni namun di berbagai bidang anak muda subang sudah menunjukan geliat dan kemauan untuk berbuat dan berkarya, sebaiknya hal ini segera mendapatkan respon dan dukungan sebelum tunas yang hendak tumbuh akan mati seketika. Diluar konteks kepentingan pilkada saya sebagai seorang trainner remaja sangat mengapresiasi sekali pada bunda imas aryumningsih yang selama setahun ini telah memberikan perhatiannya dan mampu mendorong anak-anak muda Subang mengeluarkan berbagai potensinya, tahun lalu beliau menyempatkan hadir dan menutup acara pagelaran perang bathin 1 kata fitra.
“Tonggak perubahan zaman pemuda yang berfikir dan berkarya serta pemimpin yang berani dan Kegiatan ini merupakan salah satu wujud nyata dari kata-kata tersebut yang selalu di sampaikan oleh pembina kami kata fajar asissten sutradara di pagelaran ini, kami ingin “ngado” buat Subang disetiap Hari Jadi nya semoga pemikiran dan karya kami bisa bawa perubahan walaupun sedikit buat subang” ujarnya.
“Namun sangat disayangkan acara sebesar dan sekeren ini tidak ada satupun para tokoh dan pejabat Subang yang diundang panitia hadir di acara ini, padahal ini hajat pelajar subang, para undangan yang dari luar kota saja hadir” ujar aang Suryana sebagai supervisi Program Subang Poenja Tjerita,
Dirinya sangat menyesalkan hal ini, panitia sudah menyediakan 300 undangan yang terdiri dari orang tua pemain, guru dan pembina ekstrakurikuler seni, tokoh-tokoh seni, ketua organisasi dan komunitas yang ada di Subang, Pejabat dan para calon bupati dan wakil bupati Subang saat ini. Khusus untuk para pejabat serta para calon bupati dan wakil bupati Aang menilai mereka seolah menyepelekan panitia, hal ini dilihat dari tidak adanya konfirmasi atau respon apapun atas surat undangan yang diberikan oleh panitia, sebagaimana diketahui kepanitian dari kegiatan ini seluruhnya adalah pelajar, mereka rela izin dan mengajukan dispensasi ke sekolah menyempatkan untuk mengirimkan surat undangan tersebut namun hingga kegiatan selesai tak ada satupun konfirmasi dan respon yang panitia dapatkan, hal ini terungkap ketika ia melakukan supervisi dan evaluasi program ini.
Aang mewajarkan kesibukan yang terjadi ditengah masa pilkada ini ” jangan karena sibuk mengejar tampuk kekuasaan hingga mengabaikan kerja keras dan apa yang para pelajar Subang laksanakan saat ini yaitu pagelaran kolosal tematik pelajar, niat mereka ga neko-neko kok ingin berkarya dan ingin ngado untuk subang, ingin apresiasi remaja dan anak muda di subang bangkit, dengan biaya penyelenggaraan acara ini total 27 juta alhamdulillah terpenuhi dan kami tidak nombok, hanya saja uang kas kegiatan setahun ini harus mereka kosongkan imbuhnya.
[JP Team]










