Nano Suratno: Maestro Seni dan Musik Sunda

oleh
oleh

Artikel, JPMN – Nano Suratno, nama besar yang tak asing di kancah seni dan musik Sunda. Pria kelahiran Garut, 4 April 1944, ini telah mengabdikan hidupnya untuk mengembangkan dan memperkaya khazanah budaya Sunda.

Sejak kecil, Nano telah menunjukkan bakat seninya. Lingkungan keluarga yang juga pecinta seni turut mendukung tumbuh kembangnya. Kiprahnya di dunia musik dimulai pada tahun 1963, saat ia bergabung dengan kelompok Ganda Mekar pimpinan Mang Moko.

Namun, bakat Nano tak hanya terbatas pada musik. Ia juga seorang seniman visual yang berbakat. Karya-karyanya, baik dalam bentuk lukisan, instalasi, maupun seni rupa lainnya, selalu mengandung pesan-pesan sosial dan budaya yang dalam.

Puncak karier musiknya dicapai pada tahun 1979, ketika pagelaran karawitan Gending Sangkuriang yang digarapnya meraih sukses besar dalam Festival Komponis Muda di Taman Ismail Marzuki. Sejak saat itu, namanya semakin berkibar sebagai maestro lagu Sunda.

Sepanjang hidupnya, Nano Suratno telah menghasilkan ratusan album musik dan karya seni. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya untuk pelestarian seni Sunda. Sayangnya, maestro ini meninggalkan dunia pada 29 September 2010.

Meskipun telah tiada, warisan Nano Suratno tetap hidup melalui karya-karyanya yang terus menginspirasi generasi muda. Ia adalah sosok yang patut diteladani sebagai seniman sejati yang cinta tanah air.