Artikel, JPMN – Kesultanan Langkat, yang kini berada di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, memiliki sejarah panjang sejak didirikan pada tahun 1568. Kesultanan ini bermula ketika Dewa Shahdan, seorang tokoh dari Kerajaan Aru, mendirikan kerajaan baru di wilayah yang disebut Hamparan Perak untuk menghindari serangan Kesultanan Aceh. Kerajaan ini kemudian berkembang menjadi Kesultanan Langkat yang kita kenal sekarang.
Langkat menjadi terkenal dan makmur karena pengembangan perkebunan karet dan penemuan cadangan minyak di Pangkalan Brandan. Pada tahun 1883, Sultan Langkat memberikan izin eksplorasi kepada perusahaan Belanda yang menemukan minyak bumi di wilayah tersebut. Dengan pengeboran yang mulai dilakukan pada tahun 1892, ekonomi Langkat tumbuh pesat karena royalti minyak yang diterima, menjadikannya salah satu kerajaan terkaya di Hindia Belanda pada masa itu.
Namun, masa-masa kejayaan itu mulai berubah saat pendudukan Jepang. Rakyat Langkat mengalami masa sulit karena eksploitasi besar-besaran oleh tentara Jepang. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Kesultanan Langkat menyatakan bergabung dengan Republik pada 5 Oktober 1945, dan seorang sastrawan besar, Tengku Amir Hamzah, ditunjuk sebagai Asisten Residen Langkat oleh pemerintah Indonesia.
Pada tahun 1946, saat Revolusi Sosial melanda Sumatra Timur, keluarga kerajaan Langkat menjadi sasaran kekerasan. Banyak anggota kerajaan, termasuk Tengku Amir Hamzah, kehilangan nyawa. Istana Darul Aman diserbu dan dihancurkan, meskipun Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah selamat dan diasingkan. Setelah itu, peran kesultanan di bidang politik berakhir dan Kesultanan Langkat hanya bertahan sebagai pemangku adat dan budaya hingga saat ini.










