Artikel, JPMN – K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari (1871–1947) dikenal sebagai ulama besar Indonesia dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia yang mengusung paham Ahlussunnah wal Jama’ah. Lahir di Jombang, Jawa Timur, dari keluarga ulama, Hasyim Asy’ari memiliki gelar Hadratussyeikh, yang berarti mahaguru, mencerminkan kepakarannya dalam ilmu agama. Beliau adalah ayah dari K.H. Wahid Hasyim, seorang tokoh perumus Piagam Jakarta, serta kakek dari Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia ke-4.
Latar Belakang Berdirinya NU
NU didirikan pada 31 Januari 1926 sebagai respons terhadap tantangan bagi ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Saat itu, sistem kekhalifahan di Turki telah dihapus, sementara aliran yang menentang paham Sufi dan tradisi mazhab mulai berkembang di Timur Tengah. Hasyim Asy’ari, setelah menerima dukungan dari ulama besar seperti Syaikhona Kholil dari Bangkalan, mendirikan NU di Surabaya. Tujuannya adalah untuk menjaga dan mengembangkan tradisi Islam yang berlandaskan pada empat mazhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Pemikiran Ahlussunnah wal Jama’ah
Sebagai seorang tokoh yang kuat dalam pemikiran Ahlussunnah wal Jama’ah, Hasyim Asy’ari mengajarkan pentingnya mengikuti tradisi para ulama terdahulu. Metodologi yang dianutnya berdasarkan pada fiqih empat mazhab, yang dipandang sebagai jalan untuk menjaga keberagaman. Pemikiran ini menekankan bahwa ajaran Islam sebaiknya dilandasi metode dan ajaran para ulama terdahulu yang dianggap otoritatif.
Resolusi Jihad
Pada tahun 1945, ketika Belanda berusaha menjajah kembali Indonesia, Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad. Fatwa ini mengamanatkan bahwa membela tanah air adalah kewajiban bagi umat Islam. Resolusi Jihad tersebut memotivasi perjuangan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk dalam Pertempuran Surabaya, yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia.
Peninggalan dan Pengaruh
K.H. Hasyim Asy’ari tidak hanya mendirikan NU tetapi juga meninggalkan warisan pemikiran yang kuat dalam praktik keislaman di Indonesia hingga kini. Keberanian beliau dalam menghadapi penjajah, bersama dengan dedikasinya pada pendidikan Islam, mengukuhkan posisinya sebagai pahlawan nasional yang berpengaruh besar dalam perkembangan Islam moderat di Indonesia.
Melalui NU, pemikiran Hasyim Asy’ari terus menjadi landasan penting bagi umat Islam di Indonesia, menjaga nilai-nilai tradisional dalam menghadapi perubahan zaman.










