Jakarta, JPMN – Indonesia mencatat kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat Celcius pada tahun 2024. Angka ini melampaui batas aman yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris dan menegaskan bahwa perubahan iklim semakin nyata dirasakan.
Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, mengungkapkan bahwa dunia telah mengalami anomali temperatur sejak tahun 2015 hingga 2023. Salah satu langkah mitigasi yang tengah didorong BMKG adalah penerapan konsep Bangunan Gedung Hijau (Green Building). Konsep ini bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan energi alami, seperti angin dan matahari, serta menyesuaikan desain bangunan berdasarkan data iklim lokal.
Penerapan Green Building diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada sumber energi yang tidak ramah lingkungan. Salah satu proyek yang tengah dikembangkan adalah kerja sama antara BMKG dan Kementerian PUPR di Tegal. Proyek ini menjadi percontohan dalam pembangunan berbasis riset iklim dengan fokus pada desain bangunan yang efisien dan ramah lingkungan.
“Pembangunan Green Building memang lebih mahal di awal, tetapi manfaat jangka panjangnya sangat besar, mulai dari efisiensi energi hingga keberlanjutan lingkungan. Untuk mewujudkannya, diperlukan integrasi berbagai sektor, termasuk regulasi dan peninjauan tata kota agar lebih adaptif terhadap perubahan iklim,” ujar Marjuki, Minggu (9/3/2025).
BMKG berharap konsep Green Building dapat menjadi solusi konkret dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di Indonesia. Selain meningkatkan efisiensi energi, konsep ini juga diharapkan mendorong pembangunan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan di masa depan.












