SUBANG, JPMN – Dalam upaya mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pertanian sehat dan berkelanjutan, Yayasan Utama Pesantren Bahrul Ulum bekerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) menggelar pelatihan pertanian organik dan pembuatan pupuk organik bermutu.
Acara yang berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Kelurahan Cigadung, Subang ini dilaksanakan pada Ahad, 3 Mei 2026.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua DMI Kabupaten Subang, Dr. Dede Rubai Misbahul Alam, pegiat lingkungan dan Pertanian Kompol Purn. Polw. Yayah Rokayah (mantan Kapolsek Subang).
Pelatihan diikuti oleh 30 peserta yang antusias mendalami teknik pembuatan pupuk berkualitas. Sebagai pemateri, hadir Ir. Hartoni, seorang praktisi pertanian yang juga alumni IPB tahun 1994, Fakultas Pertanian, Jurusan Ilmu Tanah.
Dalam paparannya, Ir. Hartoni menyoroti penggunaan pupuk kimia sintetis yang masif di Indonesia. Menurutnya, hal tersebut telah membawa dampak negatif yang signifikan bagi kesehatan tanah, tanaman, hingga kesehatan masyarakat luas.
”Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Tri Yudy, data menunjukkan bahwa tanah di Indonesia mengalami tingkat kerusakan tertinggi di dunia. Efek jangka panjangnya, penyakit berbahaya seperti diabetes, stroke, gagal ginjal, hingga asam urat kini banyak menjangkiti kalangan usia muda, berbeda dengan masa lalu yang hanya menyerang kalangan tua,” ujar Ir. Hartoni kepada Jabar Publisher Media Network.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa makanan yang terkontaminasi residu kimia sintetis dari hasil pertanian, ditambah dengan zat pengawet dan pewarna pada olahan makanan, menjadi pemicu utama penurunan kualitas kesehatan masyarakat.
Meluruskan Opini Keliru soal Pertanian Organik
Dalam sesi diskusi, Ir. Hartoni secara tegas membantah opini yang berkembang di masyarakat bahwa penggunaan pupuk organik akan menurunkan produksi pertanian pada awal masa transisi.”Ada anggapan keliru bahwa produksi akan turun di awal pemakaian dan baru meningkat setelah tiga tahun. Padahal faktanya, justru sejak awal penggunaan, khususnya dengan pupuk organik cair (POC) dan Enzim, dapat meningkatkan produksi di atas 30 persen,” jelasnya.
Menurut Ir. Hartoni, tidak ada alasan bagi petani untuk enggan beralih ke organik. Selain meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan produksi, peralihan ini menjadi krusial demi kesehatan masyarakat.
Pendekatan Halal dan Thoyyib
Selain aspek teknis dan ekonomi, Ir. Hartoni juga meninjau urgensi pertanian organik dari sudut pandang religius, merujuk pada QS. Al-Baqarah ayat 168. Ia mengingatkan bahwa umat Islam diwajibkan mengonsumsi makanan yang Halal dan Thoyyib.
“Selama ini kita mungkin fokus pada kehalalan makanan dalam bahasan fiqih. Namun, sisi Thoyyib—yang berarti sehat, bergizi, dan bermanfaat—sering luput dari perhatian. Mengingat fenomena pertanian saat ini yang menghasilkan produk tidak ramah kesehatan, maka sudah semestinya setiap mukmin wajib memproduksi dan mengonsumsi makanan yang Thoyyib,” tegasnya.
Praktik Pembuatan Pupuk Organik (Enzim)
Acara pelatihan ditutup dengan praktik langsung pembuatan cairan enzim. Ir. Hartoni memandu peserta mencampurkan bahan-bahan organik berupa air kelapa, nanas, tempe, tauge, molase, dan bakteri aktivator ke dalam galon berkapasitas 15 liter.
“Bakteri aktivator adalah kunci dalam proses fermentasi ini. Mereka berfungsi merombak senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana. Cairan ini harus ditutup rapat, namun tutupnya perlu dibuka setiap hari untuk membuang gas hasil fermentasi. Setelah 15 hari hingga satu bulan, enzim ini sudah bisa dipanen,” imbuhnya.
”Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal yang masif bagi masyarakat Subang untuk beralih ke pertanian organik, dan adanya peran serta dari Dinas terkait dalam hal ini Dinas Pertanian dan Lingkungan Hidup demi mewujudkan lingkungan yang lebih sehat dan masyarakat yang lebih sejahtera” Pungkasnya. [Hz]











