JAKARTA, JPMN – Bandara Internasional Dubai menjadi sorotan utama pada Rabu (17/4/2024) karena banjir parah yang menyebabkan hampir 290 penerbangan dibatalkan dan 440 lainnya ditunda. Akibatnya, ribuan penumpang terdampar dan mengalami kesulitan besar.
Menurut laporan dari BBC, data penangguhan penerbangan dikutip dari Flight Aware pada pukul 04.00 WIB. Bandara Dubai, yang merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia, mengumumkan bahwa pemulihan situasi akan memakan waktu lama. Penumpang pun disarankan untuk tidak pergi ke Terminal 1 kecuali mendapat konfirmasi dari maskapai penerbangan.
Otoritas Bandara Dubai menyatakan bahwa banjir menyebabkan gangguan signifikan dalam operasional bandara. Genangan air membuat akses jalan terputus, dan tidak ada opsi transportasi yang memadai untuk para penumpang.
Maskapai penerbangan internasional besar, Emirates, juga terdampak oleh situasi ini. Mereka bahkan memperpanjang penangguhan check-in bagi penumpang yang berangkat dari Dubai hingga pukul 09.00 pada tanggal 18 April. Hal ini disebabkan oleh tantangan operasional yang terus berlanjut akibat cuaca buruk dan kondisi jalan yang tidak memungkinkan.
Banjir di Bandara Dubai dipicu oleh hujan lebat yang jarang terjadi di kota ini dan di sebagian besar wilayah Uni Emirat Arab (UEA). Pusat Meteorologi Nasional UEA mencatat curah hujan mencapai 254,8 mm dalam waktu kurang dari 24 jam, sementara rata-rata curah hujan tahunan hanya sekitar 140-200 mm. Ini merupakan situasi yang jarang terjadi di negara yang rata-rata hanya menerima curah hujan sekitar 97 mm per tahun.
Saksi mata, seperti pasangan turis Inggris, Kate dan Andrew Golding, menggambarkan pengalaman mengerikan mereka di Bandara Dubai. Terdampar selama 12 jam, mereka mengalami kesulitan mencari penerbangan alternatif dan merasakan kekacauan di dalam bandara.
Andrew, yang menggambarkan kurangnya koordinasi dan informasi dari maskapai, menyebut pengalaman tersebut sebagai salah satu yang tidak akan pernah mereka lupakan.
“Saya kira keadaannya lebih buruk dari perkiraan siapa pun. Sistem di dalam bandara telah benar-benar berantakan dan Emirates, yang saya anggap sebagai salah satu maskapai penerbangan terbaik, tidak memiliki staf, tidak ada informasi, tidak ada koordinasi, tidak ada profesionalisme, tidak ada kepedulian, tidak ada perencanaan bencana di Emirates,” kata Andrew.
Situasi ini memberikan pelajaran berharga bagi industri penerbangan akan pentingnya perencanaan dan respons cepat dalam menghadapi situasi darurat seperti ini. Semoga tindakan pemulihan dapat dilakukan dengan efisien untuk menghindari dampak serupa di masa depan.










