Ada-ada saja isu yang menyebar di media sosial. Sepertinya semua hal yang berkaitan dengan negara banyak dipelesetkan di medsos termasuk peluncuran uang emisi 2016 yang dilakukan hari ini.
Peresmian 11 uang pecahan rupiah baru tersebut dilakukan di di Function Room Gedung Thamrin Bank Indonesia. Presiden Jokowi tiba di lokasi sekitar pukul 09.00 WIB.
Jokowi didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardjojo dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Selain itu, hadir pula Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan, Ketua MUI Ma’ruf Amin, dan sejumlah Gubernur.
11 uang rupiah baru yang diterbitkan hari ini terdiri dari
tujuh pecahan uang kertas dan empat pecahan uang logam. Uang pecahan kertas yakni Rp 100.000, Rp 50.000, Rp 20.000, Rp 10.000, Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000. Sedangkan uang rupiah logam yakni Rp 1.000, Rp 500, Rp 200, dan Rp 100.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Suhaedi menjelaskan, uang baru tersebut dilengkapi dengan unsur pengamanan yang lebih kuat untuk meminimalisir peredaran uang palsu.
Unsur pengaman itu antara lain melalui color shifting, rainbow feature, latent image, ultra violet feature, tactile effect, dan rectoverso.
Dikatakan Suhaedi, dari sisi color shifting, apabila dilihat dari sudut pandang yang berbeda, akan terjadi perubahan warna secara kontras.
Dari sisi rainbow feature, apabila dilihat dari sudut pandang tertentu akan muncul gambar tersembunyi multi warna berupa angka nominal.
Dari sisi latent image, apabila dilihat dari sudut tertentu akan muncul gambar tersembunyi berupa teks BI pada bagian depan dan angka nominal pada bagian belakang.
Dari sisi ultra violet feature (level 2), dilakukan penguatan desain UV feature yang memendar menjadi dua warna di bawah sinar UV.
Dari sisi rectoverso, apabila diterawang akan terbentuk gambar saling isi berupa logo BI.
Selain itu, lanjut Suhaedi, desain uang tahun emisi (TE) 2016 dilakukan dengan penyempurnaan fitur kode tuna netra (blind code) dengan melakukan perubahan desain pada bentuk kode tuna netra berupa efek rabaan (tactile effect) untuk membantu membedakan antar pecahan dengan lebih mudah.
“Saat kita mendesain uang baru ini, kita bertemu dengan lebih dari 10 orang. Kemudian kita uji cobakan. Mereka alhamdulillah bisa dengan cepat membedakan,” ujar Suhaedi.
Sementara itu publik medsos memberikan bermacam komentar termasuk menyebut rupiah akan diganti dengan Yuan, yang notabene mata uang negara China. Bahkan banyak yang menilai uang baru tersebut mirip dengan uang negara tirai bambu tersebut. Namun, semua isu itu dibantah dengan ucapan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) pada sambutannya di peluncuran uang emisi 2016, Senin (19/12/2016).
Jokowi meminta kepada masyarakat untuk tidak menyebar gosip dan kabar bohong tentang Rupiah. Ia mengajak masyarakat mencintai rupiah yang berarti juga mencintai Indonesia. “Karena menghina Rupiah sama saja dengan menghina Indonesia. Rupiah tidak akan diganti dan tidak akan tergantikan,” katanya.
Ia pun mengatakan Rupiah merupakan ciri khas Indonesia. Dalam rupiah sengaja ditampilkan gambar pahlawan nasional, tari nasional dan pemandangan alam yang merupakan karakteristik budaya Indonesia.
[kini.co.id]










