Peringati Maulid Ponpes Roudlotut Tarbiyyah Gelar Tabligh Akbar

oleh
oleh

Subang, JPOL -Bulan Rabiul awal memang identik dengan maulid nabi. Hal ini karena di bulan ketiga tahun hijriyah merupakan bulan kelahiran manusia agung pembawa risalah Islam yang mencakupi huda dan dienul Haq. Selain itu hadirnya di tengah kita adalah sebagai saksi, pembawa berita gembira dan peringatan, menyeru ke jalan Allah dan sebagai pelita yang menerangi yaitu Baginda Nabi Muhammad Saw.

Sudah menjadi budaya umat Islam di seluruh belahan dunia, bahwa untuk memuliakan Rasulullah Muhammad Saw sekaligus syiar mendakwahkan ajarannya, kaum muslimin biasa melaksanakan kegiatan keagamaan mauludan. Seperti halnya yang digelar di Pondok Pesantren Roudlotut Tarbiyyah yang dipimpin KH.Agung Ghozali, Cijuhung, Dawuan, Subang,pada hari Ahad,2 Rabiul awal/9/10/2201. Menggelar muludan yang cukup meriah. Bahkan, dalam rangkaian acaranya, selain tabligh akbar, dipentaskan juga berbagai kesenian islami seperti hadroh dan pertunjukan pencak silat dari para santri.

“Tujuan muludan ini tiada lain, selain syiar, juga untuk membangun sinergitas dari semua pihak agar ukhuwah islamiyah bisa terajut lebih kokoh lagi. Alhamdulillah melalui kegiatan ini, tidak sedikit masyarakat dan tokohnya, aparat, pemuda pemudi, santri, sampai para asatidz dan ulama-ulama juga hadir, dan ini menjadi momentum untuk meningkatkan persatuan umat” ujar Apriatna salah satu panitia Muludan kepada JPOL.

Melalui tema “Kebersamaan dalam memperjuangkan Agama Allah swt.Adalah puncak mendapatkan keberkahan dari Allah dunia akherat”.(KH.Agung Ghozali Pimpinan Ponpes Roudlotut Tarbiyyah Cijuhung-Dawuan-Subang)” edukasi keagamaan dan sosial pun tersampaikan kepada umat dengan sempurna. Terlebih ketika sang mubaligh, Umi Hj. Su’aidah mengupasnya dengan dalil dalil alqur’ an dan hadits serta sejarah, tidak sedikit para hadirin merasa termotivasi untuk mementingkan menghidupkan kembali nilai nilai Islam karena mengetahui betapa besar keutamaan dan pahalanya di sisi Alloh swt.

Diantara point yang disampaikan sang mubaligh adalah mengenai pentingnya Pondok pesantren untuk pondasi semua perjuangan. Sejarah mencatat, benteng pertahanan awal dan akhir suatu negara Indonesia adalah pesantren. Dengan pendidikan yang utuh dan komfrehensif di pondok pesantren, lahirlah kecintaan kepada Alloh dan Rasulnya yang akhirnya bisa mewujudkan suatu negara kesatuan repulik Indonesia yakni NKRI. Sebab, Fatwa ulama mengatakan, Hubbul Wathon minal Iman, artinya, cinta tanah air merupakan bagian dari iman.

Kalau pesantren pesantren ini banyak diminati oleh masyarakat, maka pengarunya akan bisa menghidupkan dakwah Islam di lingkungan masyarakat. Sebab anak-anak yang dipondokkan di pesantren pada waktunya akan menetas jadi generasi yang mengikuti keteladanan kyainya walaupun anak itu lahir dari orangtua petani, pedagang, PNS, Pejabat dan yang lainna. Tapi untuk masalah kepribadian maka akan dicetak persis seperti yang menetaskannya yaitu ulama dan sterusnya akan ditularkan kepada lingkungan dan masyarakat. Keuntungannya, ketika ajaran islam secara masif disampaikan kepada umat, maka insyaa Alloh sedikit demi sedikit akan membawa perubahan kehidupan dan peradaban yang lebih baik dan akan menciptakan masyarakat yang berkualitas, cerdas dan religius.

Untuk itu, dirinya berpesan kepada para orangtua agar jangan malu menitipkan anaknya di pesantren, baik pesantren yang modern atau yang klasik. Karena pada dasarnya semua ajaran pesantren itu sama hanya fasilitas dan metoda saja yang berbeda, yang penting ajaran yang disampaikannya ahlus sunnah waljamaah.***(rls-Kh.Agung Ghozali)