Pergerakan Gunung dalam Surah An-Naml (27:88): Kaitan antara Al-Qur’an dan Geologi Modern

oleh
oleh

Artikel, JPMN – Surah An-Naml (27:88) dari Al-Qur’an menyebutkan:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِۗ صُنْعَ اللّٰهِ الَّذِيْٓ اَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍۗ اِنَّهٗ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَفْعَلُوْنَ ۝٨٨

wa taral-jibâla taḫsabuhâ jâmidataw wa hiya tamurru marras-saḫâb, shun‘allâhilladzî atqana kulla syaî’, innahû khabîrum bimâ taf‘alûn

Artinya : “Engkau akan melihat gunung-gunung yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan. (Demikianlah) penciptaan Allah menjadikan segala sesuatu dengan sempurna. Sesungguhnya Dia Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menggambarkan gunung-gunung yang tampaknya stabil tetapi sebenarnya bergerak, yang relevan dengan penemuan geologi modern.

Pentingnya Ayat dalam Konteks Geologi

Ayat ini penting karena mengaitkan pemahaman agama dengan ilmu geologi. Meskipun diwahyukan pada abad ke-7 Masehi, ayat ini menunjukkan bahwa gunung-gunung tidak statis seperti yang terlihat, melainkan bergerak. Ini mengindikasikan pemahaman tentang dinamika bumi yang selaras dengan penemuan ilmiah modern, seperti pergerakan lempeng tektonik.

Penemuan Geologi Modern

Penelitian geologi menunjukkan bahwa gunung-gunung terbentuk dan bergerak akibat aktivitas tektonik. Contoh nyata termasuk sistem pegunungan Himalaya dan Andes, yang terbentuk akibat pergerakan lempeng bumi. Penemuan ini mendukung deskripsi dalam Surah An-Naml (27:88) tentang pergerakan gunung yang seolah-olah tidak bergerak tetapi sebenarnya dinamis.

Interpretasi Ulama dan Ilmuwan

Ulama seperti al-Qurtubi dan al-Samarqandi telah menafsirkan ayat ini sebagai bukti kekuasaan Allah dalam menciptakan dan mengatur alam. Di sisi ilmiah, teori lempeng tektonik yang dikemukakan oleh ilmuwan seperti Alfred Wegener menjelaskan pergerakan gunung dan kerak bumi, sejalan dengan deskripsi Al-Qur’an.

Kesimpulan

Surah An-Naml (27:88) menawarkan wawasan tentang pergerakan gunung yang tidak terlihat tetapi nyata, sejalan dengan penemuan geologi modern. Ayat ini menunjukkan adanya hubungan antara ajaran agama dan pengetahuan ilmiah, menggambarkan bagaimana Al-Qur’an mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang dinamika bumi.