Klarifikasi BMKG Terkait Video Viral Gempa Megathrust: Meredakan Kekhawatiran Publik

oleh
oleh

SUBANG, JPMN – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, telah memberikan klarifikasi terkait dengan narasi yang tersebar dalam sebuah video viral di platform media sosial TikTok.

Video tersebut menyebutkan bahwa gempa besar berkekuatan M 8,7 atau gempa megathrust akan menyebabkan lumpuhnya wilayah Jakarta. Namun, Dwikorita menegaskan bahwa video tersebut merupakan potongan yang telah dipotong oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, sehingga dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda dan menyebabkan kekhawatiran di masyarakat.

Dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Rabu, 20 Maret 2024, Dwikorita menjelaskan bahwa video tersebut sebenarnya merupakan rekaman saat rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR-RI di Senayan, Jakarta, pada tanggal 14 Maret 2024.

Saat itu, beliau sedang memberikan penjelasan kepada anggota dewan mengenai pentingnya pembangunan Gedung Operasional Peringatan Dini Tsunami (Indonesia Tsunami Early Warning System – InaTEWS) di Bali.

Dwikorita menegaskan bahwa dalam konteks yang sesungguhnya, “lumpuh” yang dimaksud adalah terputusnya jaringan komunikasi yang disebabkan oleh kerusakan infrastruktur seperti Base Transceiver Station (BTS) akibat guncangan gempa berkekuatan besar. Untuk mengantisipasi hal ini, BMKG sedang membangun Gedung Operasional InaTEWS di Bali sebagai fungsi cadangan, meskipun sudah ada di Jakarta.

Kehadiran gedung InaTEWS di Bali ini merupakan bagian dari upaya mitigasi dan manajemen risiko dalam kondisi darurat jika operasional InaTEWS di Jakarta terganggu. Dwikorita menjelaskan bahwa dalam skenario terburuk, jika gempa terjadi di lepas pantai Samudra Hindia pada jarak kurang lebih 250 km dari tepi pantai, gempa megathrust berkekuatan M 8.7 diperkirakan dapat melumpuhkan operasional InaTEWS BMKG di Jakarta.

Untuk menjaga keberlanjutan operasional sistem peringatan dini, Dwikorita menekankan perlunya membangun kembali Gedung Operasional InaTEWS dengan standar bangunan yang tahan gempa dan likuifaksi. Bangunan yang saat ini ditempati merupakan bekas Gedung Bandara Kemayoran yang dibangun pada tahun 1980-an. Selain itu, Gedung Operasional Cadangan di Denpasar juga perlu disiapkan dengan desain khusus yang tahan gempa.

Dalam mengakhiri penjelasannya, Dwikorita berharap agar penjelasan ini dapat meredakan kekhawatiran masyarakat yang disebabkan oleh penyebaran video yang tidak sesuai konten dan konteksnya.

Dia juga mengajak masyarakat untuk lebih jeli dan hati-hati dalam menyikapi informasi yang diperoleh dari media sosial, serta menegaskan bahwa BMKG adalah satu-satunya lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan dan tugas di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Dengan demikian, klarifikasi yang disampaikan oleh BMKG diharapkan dapat membantu masyarakat untuk lebih bijak dalam memahami dan menanggapi informasi yang beredar di media sosial, serta meningkatkan kepercayaan pada sumber informasi yang resmi dan terpercaya seperti BMKG.