Korea Selatan, JPMN – Langkah mengejutkan Presiden Korea Selatan (Korsel), Yoon Suk Yeol, yang mengumumkan status darurat militer pada Selasa malam (3/12/2024), sempat mengguncang dunia internasional.
Meskipun hanya berlangsung kurang dari enam jam sebelum dicabut, keputusan ini menuai protes besar-besaran dari masyarakat dan mendapat penolakan tegas dari Majelis Nasional.
Presiden Yoon mengklaim langkah tersebut diperlukan untuk menghadapi ancaman ‘kekuatan antinegara’ dan ‘komunis’, serta menuding partai oposisi sebagai penghambat fungsi pemerintahan. Namun, deklarasi ini langsung memicu gelombang penolakan, mencerminkan betapa sensitifnya isu darurat militer di Korea Selatan.
Darurat Militer di Korea Selatan
Darurat militer merupakan mekanisme konstitusional yang memungkinkan presiden untuk memobilisasi kekuatan militer demi menjaga keselamatan dan ketertiban publik dalam situasi darurat, seperti perang atau ancaman besar terhadap keamanan nasional. Deklarasi ini memberi wewenang kepada pemerintah untuk:
- Membatasi hak-hak dasar seperti kebebasan berkumpul, berbicara, dan pers.
- Mengendalikan aktivitas politik.
- Menerapkan hukum militer di wilayah terdampak.
Namun, penerapan darurat militer sering kali disertai ketegangan politik dan sosial. Hal ini mengingat sejarah kelam Korsel, di mana kebijakan tersebut kerap menjadi alat penindasan selama era kediktatoran militer.
Trauma Sejarah: Pembantaian Gwangju
Salah satu peristiwa paling tragis terkait darurat militer adalah Pembantaian Gwangju pada Mei 1980. Di bawah pemerintahan Presiden Chun Doo-hwan, yang baru saja merebut kekuasaan melalui kudeta militer, darurat militer diterapkan untuk meredam gerakan pro-demokrasi. Ribuan demonstran, mayoritas mahasiswa, berkumpul di Gwangju menuntut kebebasan dan demokrasi.
Sebagai respons, pemerintah mengerahkan pasukan khusus untuk membubarkan aksi dengan kekerasan. Akibatnya, ratusan warga sipil tewas, dan ribuan lainnya terluka. Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Korsel, sekaligus menjadi simbol kekejaman rezim militer.
Meskipun kelam, peristiwa ini menjadi titik balik yang mendorong transisi Korsel menuju demokrasi pada akhir 1980-an. Sejak sistem demokrasi mapan, darurat militer tidak lagi diterapkan hingga kini.
Reaksi terhadap Deklarasi Presiden Yoon
Pengumuman darurat militer oleh Presiden Yoon Suk Yeol menunjukkan betapa sensitifnya kebijakan ini di mata publik Korsel. Reaksi keras dari masyarakat dan parlemen menegaskan penghargaan terhadap demokrasi yang telah diperjuangkan selama beberapa dekade.
Langkah tersebut tidak hanya mengguncang stabilitas politik, tetapi juga memicu seruan agar Presiden Yoon mundur dari jabatannya. Keputusan sepihak seperti ini dinilai berdampak besar terhadap kredibilitas pemimpin, terutama di tengah masyarakat yang menghargai prinsip-prinsip demokrasi.
Deklarasi darurat militer, meskipun hanya berlangsung beberapa jam, mengingatkan kembali masyarakat Korsel akan luka sejarah masa lalu. Penghargaan terhadap demokrasi yang sulit diperoleh mendorong masyarakat untuk menolak segala bentuk tindakan yang berpotensi mengancam kebebasan mereka.
Tragedi seperti Pembantaian Gwangju menjadi pengingat bahwa kekuasaan harus digunakan dengan bijak, dan hak asasi manusia harus menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan negara. Respon masyarakat terhadap kebijakan Presiden Yoon juga menunjukkan betapa pentingnya akuntabilitas dalam menjaga kepercayaan publik terhadap pemimpin.












