Teknologi AI Dapat Prediksi Orang yang Akan Meninggal karena Covid-19

oleh
oleh

JPOL – Studi menunjukkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat memprediksi dengan akurasi hingga 90 persen jika seseorang akan meninggal karena Covid-19 atau bahkan sebelum mereka terinfeksi.

Studi itu ditulis oleh sekelompok ilmuwan dari Fakultas Sains Universitas Kopenhagen di Denmark. Penelitian mereka diterbitkan di majalah sains Nature.

Dikutip dari Jerussalem Post, Minggu, 14 Maret 2021, para peneliti mempelajari 3.944 kasus positif Covid-19 di Denmark dan menggunakan kasus positif yang diambil oleh UK Biobank untuk “validasi eksternal” dan memperhitungkan faktor risiko umum seperti usia, BMI dan hipertensi untuk merumuskan algoritma.

Model AI memprediksi risiko kematian pada tahap yang berbeda: saat diagnosis, saat masuk rumah sakit, dan saat masuk Intensive Care Unit (ICU).

Dari 3.944 pasien yang dilacak untuk penelitian ini, 324 meninggal karena Covid-19. Pria yang meninggal semuanya berusia antara 73- 87 tahun dengan tanda-tanda tekanan darah tinggi dan BMI yang jelas mempengaruhi hasil.

Hasilnya, kelompok pria ini terbukti menjadi orang dengan risiko kematian tertinggi, sehingga program AI akan memprediksi bahwa laki-laki dalam rentang usia tersebut dengan tekanan darah tinggi dan BMI berada pada risiko yang lebih tinggi.

Studi tersebut mengembangkan algoritma yang berhasil memprediksi risiko kematian.

Teknologi ini dapat membantu rumah sakit dan fasilitas perawatan medis di seluruh dunia untuk mengambil tindakan pencegahan ekstra dan dapat membantu memprioritaskan beberapa pasien daripada yang lain.

Ini bukan studi pertama yang memaparkan potensi penggunaan machine learning dalam mengambil tindakan pencegahan di tengah pandemi virus corona.

Studi Kopenhagen menunjukkan bahwa penelitian ini berfokus pada pasien yang sudah dirawat di rumah sakit.

Studi ini diterbitkan di majalah Nature dengan judul ‘Developing and validating COVID-19 adverse outcome risk prediction models from a bi-national European cohort of 5594 patients’.