Peringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika Sesuai Arahan Presiden RI

oleh
oleh
Gedung Concordia resmi berganti nama menjadi Gedung Merdeka menjelang konferensi Asia-Afrika oleh Presiden Soekarno pada 7 April 1955. (ANTARA/Rubby Jovan)

Jakarta, JPMN – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyatakan bahwa peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) akan disesuaikan dengan arahan Presiden RI, Prabowo Subianto. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Kemlu RI, Rolliansyah “Roy” Soemirat, dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta pada Selasa, 11 Maret 2025.

Menurut Roy, hingga saat ini tidak ada rencana untuk menggelar acara khusus yang melibatkan pejabat tinggi asing dalam peringatan 70 tahun KAA. Namun, beberapa kegiatan akan tetap dilakukan untuk memperingati momentum bersejarah ini, meskipun tidak dalam bentuk perayaan besar.

“Yang terpenting dalam peringatan ini adalah terus menyuarakan semangat KAA agar tetap relevan, terutama dalam situasi dunia saat ini,” ujar Roy. Ia menekankan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam KAA harus terus dikedepankan untuk menjaga semangat persatuan dan kerja sama di antara negara-negara Asia dan Afrika.

Dasasila Bandung dan Relevansinya Saat Ini

KAA pertama kali diadakan pada 18 April 1955 di Bandung, Jawa Barat, dengan tujuan utama membangun solidaritas di antara negara-negara Asia dan Afrika dalam menghadapi kolonialisme serta memperjuangkan kemerdekaan dan kesejahteraan bersama. Konferensi ini melahirkan sepuluh prinsip dasar yang dikenal sebagai Dasasila Bandung, yang menjadi pedoman dalam hubungan internasional bagi negara-negara berkembang.

Dasasila Bandung meliputi:

  1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan asas-asas yang termuat dalam Piagam PBB.
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
  3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan negara, baik besar maupun kecil.
  4. Tidak melakukan intervensi dalam urusan dalam negeri negara lain.
  5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sesuai dengan Piagam PBB.
  6. Tidak menggunakan pertahanan kolektif untuk kepentingan satu negara besar atas negara lain.
  7. Tidak melakukan agresi atau ancaman terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik negara lain.
  8. Menyelesaikan perselisihan internasional dengan cara damai sesuai dengan Piagam PBB.
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerja sama.
  10. Menghormati hukum serta kewajiban internasional.

Negara-negara yang dulu berpartisipasi dalam KAA 1955 kini bergabung dalam Gerakan Non-Blok (GNB/NAM), yang telah berkembang menjadi organisasi dengan lebih dari 100 negara anggota. Hal ini menunjukkan bahwa prinsip-prinsip Dasasila Bandung tetap relevan dan penting dalam menghadapi tantangan global, termasuk konflik geopolitik, ketimpangan ekonomi, dan perubahan iklim.

Dengan mengingat kembali semangat KAA, diharapkan negara-negara Asia dan Afrika dapat terus memperkuat solidaritas dan kerja sama dalam membangun dunia yang lebih adil, damai, dan sejahtera.

No More Posts Available.

No more pages to load.