Profesi perawat dianggap sebagai pekerjaan yang sangat vital. Mereka merupakan garda terdepan dalam setiap pelayanan di rumah sakit, klinik hingga puskesmas. Namun demikian, tak jarang peran perawat masih dianggap sebelah mata.
Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Subang, Tommy Hidayat Amk, SKM, MM mengatakan, organisasi perawat merupakan organisasi terbesar kedua setelah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Meningat jumlahnya anggotanya yang cukup tinggi.
Menurut Tommy, jumlah perawat di Kabupaten Subang diperkirakan mencapai 3.000 orang lebih. Sementara yang tercatat di organisasinya baru mencapai 2.000 orang lebih. Mereka menyebar hampir di seluruh rumah sakit, klinik dan puskesmas. Dari jumlah itu, sebanyak 60 persen merupakan perawat laki-laki. Sisanya, sebanyak 40 persen merupakan perawat perempuan. Namun demikian, saat ini perawat yang berstatus PNS (pegawai negeri sipil) baru sebanyak 800 orang. Sementara sebanyak 200 orang perawat masih berstatus sukwan. Dengan jumlah anggota yang banyak tersebut, kesejahteraan perawat harus segera ditingkatkan.
“Pelayanan terhadap orang sakit pasti awalnya ditangani oleh perawat. Baru setelahnya itu ditangani oleh dokter ataupun lainnya. Sehingga keberadaan perawat di Kabupaten Subang harus menjadi perhitungan, karena perannya sangat penting,” tutur Tommy kepada Jabar Ekspres, kemarin (22/11).
Masih menurut Tommy, tenaga perawat jangan dijadikan seperti sapi perah, karena perannya langsung berhadapan dengan pasien. Ia juga berkeyakinan, ketidakhadiran perawat di rumah sakit, klinik, atau puskemas, akan berdampak pada pelayanan di lembaga tersebut.
Dengan alasan tersebut, Tommy meminta pemerintah maupun rumah sakit atau lembaga kesehatan lainnya agar lebih memperhatikan kesejahteraan perawat. Tommy mencontohkan, hingga saat ini gaji perawat masih terendah dibanding gaji tenaga kesehatan lainnya, termasuk tenaga farmasi.
“Padahal perawat punya kompetensi, mulai dari STR, BTCLS, dan lainnya. Namun hal tersebut tidak mendongkrak jasanya. Jika diasumsikan saat ini perawat menjadi sapi perah. Itu mungkin terlalu keras. Tapi kita juga tidak menuduh kalau perawat di Kabupaten Subang menjadi sapi perah,” jelasnya.
Berkaca dari kesejahteraan perawat di Kabupaten Subang, khususnya non PNS atau sukwan, pihaknya sudah melakukan upaya-upaya untuk meningkat kesejahteraan anggotanya. Diantaranya dengan melakukan audiensi dengan DPRD dan Bupati Subang.
“Jika berbicara perawat yang berstatus honor, itu menyedihkan. Saat ini honor mereka untuk 1 kali jaga hanya diberikan jasa sebesar Rp80 ribuan. Itu dirasa belum tercukupi,” tandasnya.
Tommy berharap, kedepan perawat berstatus sukwan bisa mendapatkan tunjangan minimal Rp300-Rp500 ribu per bulan. Tak hanya itu, pihaknya juga mengimbau lembaga kesehatan yang memperkerjakan perawat tidak boleh memberikan gaji dibawa UMR Jawa Barat.
“Tidak boleh perawat yang digaji di bawah Rp1,3 juta,” tegasnya.[berbagai sumber]










