Penipuan Online ‘Pig Butchering’: Menguras Uang Korban dengan Strategi Licik

oleh
oleh

JAKARTA, JPMN – Belakangan ini, semakin banyak kasus penipuan online yang menjerat korban dengan cara-cara yang semakin canggih. Salah satu bentuk penipuan yang paling terkenal adalah ‘pig butchering’ atau ‘penyembelihan babi’.

Istilah ini, menurut CNBC Internasional, berasal dari strategi penipu yang menggunakan sanjungan dan ikatan palsu untuk ‘menggemukkan’ korbannya sebelum akhirnya menguras habis uang mereka.

Penipuan ini memanfaatkan metode yang sangat manipulatif dan emosional untuk membuat korban percaya dan berinvestasi. Dengan cara ini, para penipu berhasil mengumpulkan miliaran dolar dalam bentuk mata uang kripto.

Laporan kejahatan internet dari FBI mencatat bahwa kerugian akibat penipuan investasi mengalami lonjakan sebesar 38% pada tahun 2024, mencapai rekor tertinggi yang pernah ada, seperti dikutip dari CNBC Internasional pada Kamis, 22 Agustus 2024.

Menurut laporan tersebut, dana yang dilaporkan dicuri mencapai angka fantastis sebesar US$4,57 miliar atau sekitar Rp71,1 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar US$3,96 miliar atau Rp61,6 triliun terkait dengan penipuan investasi kripto palsu. Angka-angka ini menunjukkan besarnya dampak dari penipuan ini terhadap para investor.

Salah satu contoh kasus adalah Carina, seorang korban penipuan pig butchering yang bertemu dengan penipu melalui aplikasi kencan Buble. Dalam waktu enam minggu, Carina melihat teman kencannya menjalani gaya hidup mewah dan berinvestasi kripto secara besar-besaran.

Setelah beberapa bulan, penipu meminta Carina untuk menginvestasikan US$152 ribu (sekitar Rp2,3 miliar) ke situs web yang meniru bursa kripto yang sah, Kraken.

Lebih mengejutkan lagi, laporan dari PBB mengungkapkan bahwa penipuan ini tidak hanya berfokus pada aspek finansial tetapi juga melibatkan kerja paksa di wilayah Asia Tenggara. Jejak multi-yurisdiksi dari kasus ini menambah kompleksitas dalam usaha penyitaan dana yang dicuri dan mengatasi dampak kejahatan ini.

Kasus-kasus seperti ini mengingatkan kita akan pentingnya kewaspadaan dalam berinvestasi dan menggunakan platform online. Selalu lakukan penelitian mendalam dan pastikan untuk bertransaksi melalui saluran yang resmi dan terpercaya.