BANDUNG, JPMN – SpaceX baru-baru ini memperkenalkan Starlink Mini, sebuah perangkat portabel yang dirancang untuk memberikan akses internet melalui satelit kepada pengguna yang sedang bepergian.
Perangkat ini dijual dengan harga USD599 (sekitar Rp9,85 juta) di Amerika Serikat, atau USD100 (sekitar Rp1,6 juta) lebih mahal daripada kit Starlink standar. Namun, di masa depan, harga Starlink Mini diharapkan akan lebih terjangkau.
Di situs web resmi Starlink, perangkat ini tersedia di beberapa negara Amerika Tengah dengan harga USD200 (sekitar Rp3,2 juta) dan biaya langganan bulanan sebesar USD35 (sekitar Rp573 ribu). Starlink Mini memiliki dimensi sekitar 30 x 25 x 4 cm dan bobot hanya 1,1 kg, yang membuatnya sangat ideal untuk dibawa saat bepergian. Bahkan, perangkat ini dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam tas atau backpack.
Selain biaya perangkat, pengguna juga dikenai biaya langganan bulanan yang berkisar antara USD150 (sekitar Rp2,4 juta) hingga USD120 (sekitar Rp2 juta) untuk pengguna residensial, ditambah dengan biaya tambahan untuk layanan khusus bernama “Mini Roam” sebesar USD30 (sekitar Rp500 ribu) per bulan. Layanan tambahan ini menyediakan kuota data hingga 50 GB per bulan, dengan biaya tambahan USD1 per GB jika melebihi kuota tersebut.
Starlink Mini dilengkapi dengan router Wi-Fi bawaan yang memungkinkan pengguna untuk mengakses internet dengan mudah. Perangkat ini juga memiliki konsumsi daya yang lebih rendah dan dapat mencapai kecepatan unduh lebih dari 100 Mbps.
Elon Musk, pendiri dan CEO SpaceX, mengklaim bahwa pemasangan kit Starlink Mini hanya memerlukan waktu kurang dari lima menit, dengan perangkat dilengkapi kickstand, adaptor pipa, catu daya, dan kabel dengan konektor USB-C di satu ujung dan barrel jack di ujung lainnya.
Pengiriman pertama Starlink Mini dijadwalkan tiba pada bulan Juli ini, menjanjikan solusi internet satelit yang mudah digunakan dan portabel bagi pengguna di seluruh Amerika Serikat.










