Kilas Balik Keamanan Siber Indonesia 2024 dan Tantangan di 2025

oleh
oleh

Jakarta, JPMN – Tahun 2024 menjadi periode yang penuh tantangan bagi keamanan siber di Indonesia. Dalam catatan Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, sejumlah serangan siber besar melanda berbagai sektor, mulai dari lembaga pemerintah hingga perusahaan swasta.

Serangan Siber Awal Tahun 2024
Pada Januari 2024, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menjadi sasaran peretasan oleh kelompok Stormous. Sebanyak 82 kredensial karyawan KAI dan hampir 22,5 ribu data pelanggan bocor. Peretas mengakses sistem melalui VPN dan mengunduh data sensitif dari dashboard internal.

Bulan berikutnya, sistem Sirekap milik KPU mengalami polemik selama Pilpres dan Pileg 2024. Sirekap menampilkan hasil berbeda dari perhitungan manual di TPS, mengakibatkan penghentian sementara rekapitulasi suara.

Insider Threat dan Kebocoran Data
Pada Maret 2024, Biznet mengalami serangan siber yang berasal dari dalam (insider threat). Data pelanggan, kontrak, dan produk bocor dan dijual di darkweb oleh peretas bernama Blucifer. Kebocoran ini memicu kekhawatiran terkait perlindungan data pelanggan di sektor penyedia layanan internet.

Pada April, maraknya judi online membuat pemerintah menetapkan status darurat. Situs pemerintah yang tidak terkelola dengan baik menjadi target peretas dan diubah menjadi platform judi online.

Masalah Regulasi dan Infrastruktur Digital
Masuknya Starlink ke Indonesia pada Mei 2024 memicu kontroversi terkait percepatan izin dan absennya Network Operating Center (NOC) di dalam negeri. Hal ini menyoroti pentingnya regulasi ketat bagi layanan internet asing.

Pada Juni, Pusat Data Nasional (PDN) diserang ransomware oleh Brain Cipher. Sebanyak 282 instansi pemerintah terdampak, menghambat layanan imigrasi di berbagai bandara. Kelompok peretas meminta tebusan sebesar USD 8 juta, namun kemudian menawarkan kunci ransomware secara gratis dengan syarat tertentu.

Pergantian Kepemimpinan dan Reformasi Digital
Akibat insiden PDN, Dirjen Aptika Kominfo, Semuel Pangerapan, mengundurkan diri pada Juli 2024. Dalam pernyataannya, Brain Cipher menegaskan bahwa serangan mereka bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan siber.

Pada Agustus, data 4,7 juta PNS bocor dari Badan Kepegawaian Negara (BKN). Peretas TopiAx menjual data ini di forum Breachforums seharga USD 10 ribu.

Serangan di Sektor Keuangan dan Kripto
Pada September 2024, platform kripto Indodax mengalami peretasan yang menyebabkan kerugian USD 22 juta. Di bulan yang sama, data 6,6 juta wajib pajak juga bocor dari Dirjen Pajak.

Langkah Strategis dan Reformasi
Pada Oktober 2024, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berganti nama menjadi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Fokus utama adalah keamanan data pribadi dan pemberantasan judi online.

Namun, tantangan tetap berlanjut. Pada November, skandal pegawai Komdigi yang terlibat dalam bisnis judi online terungkap. Sebanyak 11 pegawai ditetapkan sebagai tersangka.

Prediksi dan Ancaman di 2025
Ketua CISSReC, Pratama D. Persadha, memprediksi ancaman siber akan meningkat pada 2025. Teknologi AI agentik diperkirakan menjadi alat baru bagi peretas, memungkinkan serangan otomatis yang lebih cepat dan kompleks.

Tahun 2025 akan menjadi ujian bagi Indonesia dalam memperkuat infrastruktur digital dan meningkatkan kolaborasi lintas sektor untuk mencegah serangan siber yang lebih besar. Perlindungan data dan kesadaran publik akan menjadi kunci utama dalam menjaga kedaulatan siber nasional.