JAKARTA, JPMN – Kekacauan yang disebabkan oleh tumbangnya Microsoft Windows akibat update software dari perusahaan keamanan siber CrowdStrike menunjukkan kerapuhan dalam sistem digital global. Dampaknya dirasakan luas, mengganggu operasional berbagai sektor seperti bandara, perbankan, toko online, dan media.
Kerapuhan Sistem Digital
Menurut Zoen Klienman, kolumnis teknologi dari BBC, gangguan ini mengungkapkan bahwa bahkan platform besar seperti Microsoft, yang memiliki dana dan investasi besar dalam keamanan sistem, bisa terpuruk karena kesalahan dalam update software dari perusahaan keamanan siber independen.
“Dampaknya sangat luas karena komputer yang didukung Microsoft merupakan jantung dari sebagian besar infrastruktur teknologi dunia. Hal ini menunjukkan betapa bergantungnya manusia pada infrastruktur tersebut, dan betapa tidak berdayanya ketika terjadi kesalahan yang berada di luar kendali,” tulis Klienman.
Risiko Ketergantungan pada Satu Penyedia TI
Owen Sayers dari Computer Weekly menyoroti risiko besar yang dihadapi ketika upaya global kita terpusat pada satu penyedia TI. Banyak bisnis, layanan, dan masyarakat yang hanya menggunakan satu penyedia TI demi kemudahan dan kenyamanan. Namun, hal ini juga berarti tidak ada rencana cadangan jika penyedia tersebut mengalami masalah.
“Vendor tunggal sering dipilih karena alasan biaya. Alasannya adalah karena vendor tersebut sangat besar dan kuat sehingga perusahaan tidak mengantisipasi jika vendor tersebut tumbang,” kata Alina Timofeeva dari BCS, Institut TI.
Dampak pada CrowdStrike
Perusahaan keamanan siber CrowdStrike menghadapi tekanan besar akibat insiden ini. “Akan ada seseorang di CrowdStrike yang akan mendapat banyak masalah saat ini karena tidak melakukan update software dengan benar. Dan akan ada banyak orang yang bekerja akhir pekan ini,” kata Prof Victoria Baines dari Gresham College di London.
Kejadian ini mengingatkan kita akan kerapuhan sistem digital global dan risiko ketergantungan pada satu penyedia TI. Penting bagi perusahaan dan layanan untuk mempertimbangkan rencana cadangan dan diversifikasi penyedia TI untuk mengurangi risiko saat terjadi gangguan yang tidak terduga.










