JAKARTA, JPMN – Pentingnya mengungkap jejak-jejak peradaban masa lalu melalui pendekatan multi-disiplin, termasuk arkeologi, tidak dapat dipandang sebelah mata. Hal ini bertujuan untuk memperoleh gambaran menyeluruh tentang peradaban leluhur bangsa Indonesia yang mendiami kawasan Nusantara.
Prof. Dr. Agus Aris Munandar dari Pusat Studi Arkeologi UI menjelaskan bahwa wilayah Indonesia menyimpan berbagai peninggalan sejarah peradaban Zaman Es, terutama di bagian barat Indonesia. Dalam pemaparannya di Seminar Nasional Warisan Peradaban Sundaland, Agus mengungkapkan bahwa Sundaland—Paparan Sunda di barat—dulunya menghubungkan pulau-pulau Indonesia bagian barat dengan daratan Asia Tenggara. Sementara itu, Paparan Sahul terletak di timur.
“Pada masa sekitar 2.000 hingga 8.000 SM, permukaan air laut naik, menyebabkan perubahan dalam kehidupan manusia. Terdapat bukti tahapan zaman batu seperti Paleolitikum, Mesolitikum, dan Neolitikum, yang kemudian berlanjut ke zaman modern,” jelas Agus.
Agus juga mengajukan pertanyaan tentang peradaban manusia pada masa 12 ribu SM yang tampaknya mengalami kemunduran, seolah-olah memulai kembali dari awal. Menurutnya, ada kemungkinan peradaban Sundaland tenggelam, dan manusia pada masa itu kembali ke pulau-pulau yang lebih tinggi peradabannya, sehingga tampak seperti memulai kembali dari Paleolitikum.

Dari data arkeologis, ditemukan bahwa pada masa itu terdapat peradaban maju yang dikenal dengan industri logam Dong-son. Temuan penting dari periode ini termasuk nekara, yaitu gendang besar terbuat dari perunggu yang dihiasi ukiran seperti orang menari, perahu, dan topeng. Peradaban Dong-son menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Artefak seperti nekara ditemukan di Museum Nasional dan beberapa museum di Pulau Jawa, meskipun sebagian rusak dalam kebakaran September 2023.
Salah satu penemuan menarik adalah Batu Gajah di Sumatra Selatan. Batu ini diukir dengan gambar figur orang berpakaian tidak seperti masyarakat tropis, melainkan subtropis. Ada juga gambar gajah yang ditunggangi seseorang dengan busana yang mencolok. Penelitian menunjukkan bahwa gajah mungkin dianggap sebagai hewan tunggangan pemimpin atau raja.
Menurut Agus, jejak arkeologis peradaban Sundaland umumnya ditemukan di pulau-pulau dan wilayah tinggi. Temuan ini menunjukkan perkembangan awal peradaban manusia hingga memasuki zaman sejarah. Paparan Sunda, yang menyatukan kepulauan Indonesia bagian barat dengan Asia Tenggara, mungkin telah ada sebelum permukaan air laut naik.
Agus berpendapat bahwa kemahiran pembuatan nekara Dongson adalah kelanjutan dari tradisi peradaban masyarakat di Sundaland. Peninggalan seperti nekara dan ornamennya merupakan data penting untuk mengungkap lebih lanjut tentang kebudayaan manusia yang mungkin pernah ada di Sundaland.










