Kesedihan Selimuti Prosesi Pemakaman Bupati Bekasi yang Meninggal karena Covid-19

oleh
oleh

JPOL – Tangis itu meledak tatkala iring-iringan mobil jenazah tiba di kediaman pribadi Bupati Eka Supria Atmaja di Kampung Lemahabang Desa Waluya Kecamatan Cikarang Utara Kabupaten Bekasi, Senin 12 Juli 2021.

Keluarga, pejabat pemerintahan serta warga sekitar yang telah lama menunggu tak kuasa menahan tangis saat sebuah mobil hitam datang membawa jenazah almarhum. Sesuai kesepakatan keluarga, almarhum dimakamkan di lingkungan kediamannya.

Tak ada penyemayaman di dalam masjid ataupun pelukan keluarga kepada jenazah. Mulai dari kedatangan hingga proses pemakaman dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Sesampainya di lokasi pemakaman, jenazah pun disalatkan dengan menjaga jarak. Jenazah tetap berada di mobil jenazah kemudian keluarga dan para kerabat menyalatkannya dengan menjaga jarak.

Setelah dikumandangkan azan, petugas ber-APD lengkap kemudian pengeluarkan jenazah dari dalam mobil.

Dengan perlahan, jenazah bupati yang berada di dalam peti itu pun mulai dimasukkan ke dalam liang lahat. Tangisan pun kembali pecah.

Sang istri, Kholillah, bahkan sempat tak sadarkan diri saat menabur bunga di depan pusara almarhum.

Kesedihan itu terlihat dari wajah para pelayat. Mereka pun tampak tidak percaya. Bagaimana tidak, sekitar dua pekan lalu sang bupati masih beraktivitas seperti biasa.

Mengikuti berbagai kegiatan dan tetap menerima tamu, baik di kantor maupun kediaman pribadinya.

Hanya saja, Covid-19 mengakhiri riwayat hidupnya. Setelah sekitar sepekan dirawat intensif di RS Siloam Tangerang, sang bupati pun tutup usia.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Sri Enny Mainiarti mengatakan, sebelum meninggal dunia kondisi bupati sempat membaik.

Hasil tes usap terakhir pun menunjukkan jumlah virus dalam tubuhnya telah berkurang hingga tidak lagi menularkan. Hanya saja takdir berkata lain.

“Waktu kemarin PCR itu CT valuenya sudah tinggi, 34-35 CT. Bukan dalam kondisi yang infectious (menularkan). Namun demikian, Tuhan berkehendak lain,” ujarnya.

Sementara itu, sejumlah warga mengaku sedih dengan meninggalnya bupati. Widia (30) mengatakan, Eka merupakan sosok yang ramah dan perhatian kepada warganya.

“Paling ingat itu kalau ketemu itu senyum, ramah aja itu. Jadi pas tahu semalem meninggal, kami semua kaget,” ucap dia.

Hal senada diungkapkan Rosidah (40). Meski menjabat sebagai bupati, Eka tetap bisa memposisikan diri sebagai tetangga yang baik dan ramah.

“Beliau orang baik ramah, orangtuanya juga sama baik sama tetangga. Banyak bantu orang,” katanya.