Jakarta, JPMN – Cacar monyet atau monkeypox (Mpox) telah menjadi isu kesehatan yang semakin memprihatinkan di Indonesia. Penyakit ini, yang disebabkan oleh virus MonkeyVox, dapat menimbulkan gejala yang bervariasi, mulai dari ringan hingga berat, terutama pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Pada Juli 2022, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengeluarkan pernyataan bahwa penyakit cacar monyet merupakan darurat kesehatan masyarakat global.
Ketua Satgas Mpox PB IDI, Dr. Hanny Nilasari, Sp. DVE, mengungkapkan bahwa salah satu masalah utama dalam penanganan cacar monyet adalah seringkali gejalanya diabaikan karena cenderung ringan. Banyak orang juga menganggap penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya.
Namun, Dr. Hanny memperingatkan bahwa bahkan kasus Mpox yang gejalanya ringan pun dapat menular dan berpotensi menyebabkan penyebaran penyakit yang berakibat fatal, terutama pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Penularan cacar monyet terjadi antar manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau lesi kulit yang terinfeksi. Gejala penyakit ini pada manusia mirip dengan cacar air, tetapi umumnya lebih ringan.
Gejala awal biasanya mencakup demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Perbedaan utama antara gejala cacar air dan cacar monyet adalah bahwa cacar monyet dapat menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening, yang tidak terjadi pada cacar air.
Masa inkubasi cacar monyet berkisar antara 6 hingga 13 hari, tetapi dalam beberapa kasus bisa mencapai 5 hingga 21 hari.
Dalam menghadapi penyakit menular seperti cacar monyet, terutama pada anak-anak, penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Dr. Inggris Tania, M.Si., menyatakan bahwa terdapat banyak cara untuk menjaga kekebalan tubuh, mulai dari pola makan sehat dan seimbang, istirahat yang cukup, menjaga hidrasi, hingga berolahraga secara teratur.
Saat ini, pemerintah telah menyediakan vaksin untuk cacar monyet, meskipun ketersediaannya masih terbatas, terutama di wilayah Jakarta dan bagi populasi yang berisiko tinggi. Selain vaksin, penggunaan imunomodulator juga dapat menjadi alternatif, terutama produk yang telah mendapatkan izin edar dari Badan POM dan sertifikat fitofarmaka. Dr. Tania menekankan bahwa produk yang memiliki sertifikat fitofarmaka adalah pilihan yang lebih baik karena telah melalui uji klinis.
Salah satu bahan alami yang dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh adalah tanaman meniran hijau, yang merupakan herbal asli Indonesia. Direktur Riset dan Pengembangan Bisnis Dexa Group, Prof. Raymond Tjandrawinata, mengungkapkan bahwa meniran memiliki aktivitas terhadap berbagai macam patogen dan telah digunakan dalam produk seperti Stimuno.
Tanaman meniran telah melalui uji klinis untuk berbagai penyakit, termasuk pasien TBC, hepatitis, infeksi saluran pernapasan akut, dan campak Jerman. Bahkan, meniran juga sedang diuji klinis untuk infeksi virus SARSCOV-2 dengan gejala ringan hingga sedang.
Meningkatkan kekebalan tubuh melalui pola makan sehat, istirahat yang cukup, hidrasi yang memadai, olahraga teratur, serta produk alami seperti meniran, dapat menjadi langkah yang penting dalam melindungi diri dari berbagai penyakit menular, termasuk cacar monyet. Peningkatan kesadaran dan upaya pencegahan adalah kunci untuk mengatasi penyebaran penyakit ini di masyarakat.










